Slider

GALERI

News

MUSIK

BUDAYA WISATA

Event

TIPS

SELEBRITIS

Polres Subang Berangus Pejudi Kelas Gapleh

Satuan Reserse Kriminal Polres Subang terus gencar melakukan pemberantasan penyakit masyarakat (Pekat). Dalam satu gembrakan, berhasil memberangus beberapa orang yang terlibat judi kartu di 2 wilayah, Cibogo dan Cipunagara dengan barang bukti kartu dan beberapa ratus ribu rupiah uang tunai.

Kapolres Subang, AKBP Yudhi S. Wahid melalui Kasat Reskrim AKP Yandi Mono didampingi Kanit Jatanras Ipda Andi Kurniady mengungkapkan, telah mengamankan 8 tersangka yang terlibat judi remi dan domino di 2 tempat yang berbeda. 

Dijelaskan, operasi diawali di daerah Cibogo Subang sehingga ditemukan di Desa Padaasih yang bermain kartu domino pada larut malam. Penyisiran berlanjut menyusuri perkampungan dan di daerah Kampung Liangbuaya,  Desa Kotasari Kec. Pusakanagara ditemukan yang sedang berjudi, satu di antara pemainnya perempuan.

Setelah diperiksa, ke 8 tersangka  pada umumnya sebagai tenaga buruh. Mereka mengaku iseng mengisi waktu tapi menggunakan uang. Salah seorang tersangka mengakui dengan kasus yang dialaminya menjadi pembelajaran. Sebab, dirinya datang ke Cibogo untuk bekerja.(gm)

Keren, Bupati Indramayu Masuk 71 Indonesian Inspiring Women 2016

Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah terpilih sebagai satu dari 71 Indonesian Inspiring Women 2016 oleh Majalah Women’s Obsession, Obsession Media Group. Anna dinilai mengangkat harkat dan martabat perempuan Indramayu terutama dalam mengikis warung remang-remang (warem) yang selama ini identik dengan prostitusi.

Kebijakannya memberantas warem rupanya diacungi jempol. Secara perlahan mampu merubah wajah Indramayu dan mengangkat harkat dan martabat perempuan Indramayu.

Women’s Obsession, khusus didedikasikan bagi wanita modern Indonesia. Sesuai tagline yang diusung, yakni life, career, style, Women’s Obsession menyasar segmen wanita sukses dan mapan di rentang usia 40-60 tahun.

Di edisi spesial Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71, Women’s Obsession mengulas 71 perempuan inspiratif di bidangnya. Mereka mengukir prestasi cemerlang dan obsesi besar untuk kemajuan negeri dan kaum Hawa.

Dalam profil tersebut, tak luput pula kilasan perjuangan mereka dalam keluarga dan kehidupan pribadi yang turut mengundang decak kagum. Sebanyak 71 Indonesia Inspiring Women 2016 dipublikasikan Majalah Women’s Obsession pada tanggal 9 Agustus 2016.

Anna Sophanah mengaku, kaget dan tersanjung karena terpilih sebagai salah satu dari 71 Indonesian Inspiring Women 2016 tersebut. Apalagi Bupati Indramayu dipilih bersama dengan tokoh wanita Indonesia yang paling berpengaruh. Antara lain Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Ketua Umum Dekranas Mufidah Jusuf Kalla, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Tokoh Pejuang Pluralisme dan Toleransi Beragama Sinta Nuriyah Wahid.

Selanjutnya juga ada Tokoh Nasional Kristiani Herrawati Yudhoyono, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dan lain sebagainya.

”Saya kaget dan sangat tersanjung dengan penghargaan itu. Apa yang telah saya dan akan lakukan untuk Indramayu semoga dapat menginspirasi bangsa dan negara Indonesia. Ini akan terus menjadi komitmen kami, bahwa kesejahteraan masyarakat Indramayu adalah menjadi tujuan bersama,” kata Anna Sophanah.(gm)

Siti Nurfadilah, Bayi Gizi Buruk Asal Leuwi Bolang

Siti Nurfadilah, bayi berusia 9 bulan itu tampak digendong ibunya. Nafasnya terdengar sedikit sesak sementara bola matanya sayu dan sesekali terpejam lemah. Putri pertama pasangan Ani Trisnawati (20) dan Aep Saepul Bahri (23) itu diketahui memiliki berat badan hanya 4 kilogram saja.

“Berat waktu lahir terus terang saya tidak tahu. Soalnya lahirnya di rumah dibantu paraji (dukun beranak, red),” ujar Ani.
 
saat ditemui di rumahnya yang berlokasi di RT 14/RW09 Kampung Leuwi Bolang, Desa Panyindangan, Kecamatan Sukatani.

Keberadaan Siti Nurfadilah diketahui ketika sang Ibu mendaftar sebagai peserta pada kegiatan bakti sosial pengobatan gratis yang diselenggarakan Sat Polair Polres Purwakarta bekerjasama dengan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Asri Purwakarta, beberapa waktu lalu.
Saat diperiksa dokter, Siti langsung dirujuk untuk segera dibawa ke rumah sakit saat itu juga oleh tim medis. Sayangnya Ani menolak meski sudah dibujuk tim medis dan personel Polair. 

Usai pengobatan gratis, tim medis dikawal personel Polair langsung mendatangi kediaman Ani dengan maksud untuk dibujuk kembali agar Ani beserta bayinya mau ikut ke rumah sakit. Lagi-lagi Ani menolak. 

Ani malah meminta obat tidur untuk Siti karena akhir-akhir ini anaknya itu susah tidur. Permintaan tersebut jelas ditolak tim medis, seraya menjelaskan bahaya memberi obat tidur kepada bayi.

Ani mengaku sudah lama dirinya mengetahui bila anaknya divonis gizi buruk. “Saat Siti masih dikandungan, saya pernah USG, kata dokter ada kelainan. Proses melahirkan juga saya lakukan di rumah, dan waktu itu nggak langsung ditimbang, jadi saya nggak tahu berat badan Siti waktu lahir,” kata Ani polos.
 
Beberapa waktu lalu, kata Ani, dirinya pernah membawa anaknya ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Di sana Siti melakukan tes darah dan rontgen. “Kata dokter di sana dikatakan anak saya mengalami gizi buruk.

Selain itu lubang tenggorokannya kecil jadi gampang sesak nafas. Selain itu otaknya tidak berkembang,” kata Ani.

Ani juga mengatakan bila dirinya diharuskan dokter di RSHS untuk rutin membawa anaknya seminggu sekali. “Biaya dan waktunya pak. Saya sama suami nggak sanggup,” kata Ani yang tampak pasrah dengan kondisi anaknya tersebut. (pe)

Ternyata..Ibu Gloria Alumni SMA Petang Subang.

Gloria Natapradja Hamel, siswa anggota Paskibraka yang dibatalkan lantaran tercatat memiliki status dua kewarganegaraan, yaitu Indonesia dan Prancis, lahir dari seorang ibu asal Subang bernaman Ira Hartini Natapradja. Setelah lulus SMA, Ira Hartini ke Jakarta lalu bertemu dengan jodohnya warga negara Prancis Didier Hamel dan menetap di Depok.
 
Diketahui Ira Hartini berasal dari Desa Cikuda, Kecamatan Cipeundeuy, Subang. Selain itu ibunya Gloria ini juga merupakan lulusan dari SMA PGRI 2 Subang tahun 1997.

Kepala SMA PGRI 2 Subang, Evi Mariani Erief mengatakan, orang tua Gloria bernama Ira Hartini benar merupakan lulusan SMA PGRI 2 Subang atau yang dikenal SMA Petang. 

“Iya memang betul ibunya Gloria itu dulunya lulusan SMA PGRI 2 Subang,” katanya saat dihubungi Pasundan Ekspres, Rabu (17/8).

Sebagai kepala sekolah SMA PGRI 2 Subang ia bangga seorang lulusan sekolahnya bisa melahirkan anak yang berprestasi hingga terpilih seleksi Paskibraka tingkat nasional, meski dibatalkan karena persoalan kewarganegaraan.

Ia pun turut bersuara mengenai dibatalkannya Gloria pelajar SMA Islam Dian Didaktika Depok, Jabar itu dari Paskibraka. Menurutnya, Gloria tidak salah dalam hal ini.

Seharusnya penyeleksian dari awal untuk calon Paskibraka bisa lebih teliti sehingga tidak jadi persoalan seperti ini. “Kalau sudah begini kan, kasihan ke psikologis Gloria itu,” ujarnya.

Sementara teman ibu Gloria, warga Ciereng, Subang, Dicky Fitriana yakin bahwa Gloria adalah anak sahabat satu kelasnya Ira Natapraja setelah melihat di televisi. Menurut Dicky, Ira saat masih di SMA juga aktif menjadi anggota Paskibra.

“Saya yakin Gloria itu anaknya Bu Ira Natapraja setelah lihat acara di tv. Teman saya satu kelas di SMA Petang. Ya ikut bangga juga, tapi kasihan Gloria, padahal berprestasi. Kasihan Gloria tidak tahu apa-apa,” tutur Dicky.

Seperti ramai diberitakan di berbagai media, anggota Paskibraka dari Jawa Barat itu batal dikukuhkan karena tercatat memiliki dua kewarganegaraan, yaitu Indonesia dan Prancis.

Meski begitu, Menpora tetap memberikan apresiasi kepada Gloria karena berusaha untuk menjadi anggota Paskibraka nasional. Menpora mengangkat Gloria sebagai Duta Kemenpora.

Untuk mengurangi kekecewaannya, akhirnya istana memberi kesempatan kepada Gloria menjadi pasukan penurunan bendera merah putih di Istana Negara kemarin sore.

Dalam analisis ahli hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra, tidak ada dasar hukum yang kuat sehingga Gloria bisa bergabung dengan Paskibraka meski hanya dalam upacara penurunan.

Menurut Yusril, bedasarkan Peraturan Menpora Nomor 0065 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Paskibraka, syarat untuk menjadi anggota pasukan pengibar duplikat bendera pusaka dalam perayaan HUT Kemerdekaan RI di Istana Negara haruslah warga negara Indonesia (WNI). Sementara Gloria, kata Yusril, jelas bukan WNI jika merujuk pada aturan perundang-undangan yang berlaku.

“Gloria lahir tahun 2000 dari perkawinan campuran. Ayahnya WN Perancis, ibunya WNI. Berdasarkan UU Nomor 62 Tahun 1958 (tentang Kewarganegaraan RI, red) yang berlaku ketika itu (tahun 2000) Gloria pasti WN Perancis dan bukan WNI,”

Mantan menteri hukum dan HAM itu menjelaskan, UU 62 Tahun 1958 menganut garis darah ayah atau ius sanguinis patriachat. Karenanya, kata Yusril, mustahil jika Gloria kewarganegaraan ganda.

“Karena UU yang mengatur adanya dwikewarganegaraan baru disahkan tahun 2006, enam tahun setelah Gloria lahir. UU itu tidak berlaku surut. Paspor Gloria seperti yang diakuinya adalah paspor Prancis,” ujar Yusril.

Ia menambahkan, Gloria mungkin punya kartu izin tinggal tetap (KITAP) dari imigrasi. Sebab, orang tuanya tinggal di Indonesia.

Namun, Yusril menegaskan bahwa Gloria bukanlah WNI. “Sehingga menurut hukum, Gloria tidak boleh menjadi anggota Paskibraka, walau hanya untuk menurunkan saja,” tegasnya.

Karenanya Yusril meminta Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menjelaskan dasar hukum yang menjadi alasan sehingga Gloria bisa bergabung dengan Paskibraka. Terlebih, Yusril justru menganggap Gloria merupakan korban ketidakcermatan dalam rekrutmen anggota Paskibraka.

“Saya simpati pada Gloria karena dia adalah korban. Apakah dibolehkannya Gloria menurunkan bendera menunjukkan pengakuan bersalah Presiden dan Wakil Presiden, untuk menghindari gugatan Gloria dan orang tuanya karena merasa telah dipermalukan di depan publik?” ulasnya.

Karenanya Yusril menyebut pemerintah berada dalam posisi dilematis dalam menghadapi persoalan Gloria. 

“Pemerintah akhirnya bagai dihadapkan pada buah simalakama: membolehkan Gloria supaya terlihat bijaksana, tapi risikonya melakukan pelanggaran hukum,”

Tak hanya siswa di SMA, siswa SMP dan SD serta guru-guru pun ikut prihati?n dengan nasib Gloria.

Sebagai rasa simpati terhadap Gloria, seluruh siswa SD, SMP, dan SMA Islam Dian Didaktika berkumpul memberikan dukungan moriil. 

“Kami berharap Gloria tetap bersemangat dan tetap cinta Indonesia. Kalaupun Gloria dicoret karena punya paspor Prancis. Kami kenal Gloria, anaknya sangat nasionalis,” kata Dwi, salah satu guru SD Islam Dian Didaktika kepada JPNN, Selasa (16/8).

Aksi simpati berlangsung tertib dan diisi dengan renungan maupun doa penyemangat bagi Gloria. Meski gagal dilantik jadi anggota Paskibraka, mereka mengingatkan Gloria bahwa masih ada jalan lain baginya untuk menunjukkan sikap nasionalisnya.

“Kami bersyukur kalau Gloria nantinya diangkat jadi salah satu Duta Kemenpora, paling tidak ini bisa membuat semangat Gloria bangkit lagi,” tandasnya.(pe)


Renungan Suci Diawali Napak Tilas

Plt Bupati Subang, Imas Aryumningsih bersama para pejabat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Subang, melakukan napak tilas dengan berjalan kaki dari titik kumpul di Rumah Dinas Plt Bupati Subang menuju Taman Makam Pahlawan Cidongkol Subang.
Aksi ini merupakan bagian dari Renungan Suci dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan ke-71 tahun Republik Indonesia.
Kegiatan ini merupakan aksi pertama kali selama beberapa tahun terakhir. Sepanjang jalur yang dilalui diterangi oleh obor bambu (colen) yang dipegang oleh pasukan. Selama menempuh perjalanan Plt Bupati bersama Muspida menikmati aura perjuangan. Terlebih sebagian besar banguna di sekitar jalur perjalanan masih nampak bangunan peninggalan masa perjuangan.
Menurut Plt Bupati, tujuannya untuk menyerap semangat para pahlawan yang kala itu hanya berbekal penerangan seadanya berupa obor (colen) tetap semangat memperjuangkan merebut Kemerdekaan.
"Kami Kepala Daerah bersama Muspida berjalan kaki menuju Taman Makam Pahlawan dengan diterangi obor (colen) sedikit mengenang sejarah dimana para pejuang kita dahulu berperang hanya mengandalkan alat penerangan seadanya. Tetapi semangat mereka lebih terang daripada lampu-lampu modern sekarang ini," paparnya, Selasa malam (16/8/2016).
Harapannya, lanjut Imas, kita semua dapat memaknai dan menuangkan semangat kemerdekaan.
"Khususnya pada kerja nyata di keseharian kita dalam melaksanakan tugas untuk Subang tercinta," imbuhnya
Hal senada dikatakan oleh Komandan Kodim 0605 Subang, Letkol Inf Budi mawardi Syam yang mengatakan bahwa melalui Napak Tilas bertujuan untuk meningkatkan nilai cinta kita kepada tanah air yang sudah diwujudkan para leluhur kita dalam keterbatasan tetap berjuang tanpa henti.
"Dengan segala keterbatasan kita pada waktu baik siang maupun malam untuk melakukan perjuangan," ujarnya.
Budi berharap melalui Napak Tilas bisa menanamkan nilai baik hingga mengakar ke generasi penerus.
"Mudah-mudahan nilai baik mengakar sampai ke generasi berikutnya. Saya kira ini perlu dipertahankan dengan melibatkan semua elemen," pungkasnya.
Malam itu bertindak sebagai inspektur upacara ialah Komandan Kodim 0605 Subang dengan diikuti oleh para pelajar, Aparatus Sipil Negara dan pasukan dari Satuan TNI dan Polri. (HUMAS SUBANG)
 
 
 

Calhaj Berusia 60 Tahun Jalan Kaki ke Asrama Haji Subang

Pemberangkatan calon haji (Calhaj) asal Kabupaten Subang yang masuk kelompok terbang (Kloter) 22 sebanyak 422 orang tampak cukup ramai. Ribuan pengantar dengan berbagai kendaraan memenuhi beberapa ruas jalan di seputaran Wisma Haji di Jalan Arif Rahman Hakim, Subang, Selasa (16/8/16) sore.

Di antara Calhaj ada seorang yang bernama Elis Kusmiati (60) berjalan kaki di Jalan Mayjen Sutoyo, Subang menuju Asrama Haji Subang dengan jarak sekira 2 Km. Alasan Calhaj tersebut guna menghindari kemacetan kalau diantar pake mobil. ”Lagi pula kediaman kita cukup dekat kok di Sukarahayu,Subang, ”katanya

Ia menampik bila disebut sebagai nazar, dan tetap menegaskan supaya tidak terkena macet. Malahan menurutnya, melaksanakan ibadah haji akan lebih banyak melakukan kegiatan fisik sehingga dengan jalan kaki sekaligus latihan. Suasana di Jalan Mayjen Sutoyo masih lenggang, tetapi begitu di perempatan KS Tubun, jalur Kertawigenda dan jalan Aeif Rahman ribuan pengantar ditambah kendaraan bebagai jenis memadatinya.

Calhaj asal Subang secara resmi dilepas oleh Plt. Wakil Bupati Subang didampingi anggota Forpimda dengan ditandai pengibaran bendera di gerbang Wisma Haji. ”Dengan ucapan Bismillah.....semoga seluruh jemaah diberi kekuatan dan kesehatan serta dapat melaksanakan ibadah dengan baik. Pulang mendapat gelar haji mabrur, ”kata Hj.Imas.

Kepala Kantor Kementerian Agama Subang, Dr. H. A. Sukandar  menjelaskan, Calhaj sebanyak 442  orang tersebut Kloter) 22 atau keloter pertama untuk Subang. “Mereka akan menuju ke Wisma Haji Embarkasi Bekasi dan baru pada Rabu sekira pukul 17.00 wib berangkat ke Makkah melalui Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta, “katanya.

Dirinya pun menjami semua Calhaj dalam kondisi sehat, dan siap diterbangkan ketanah suci Mekkah, juga persoalan paspor dan visa juga sudah berada ditangan para calon haji. (gm)

Di Detik Akhir, Dara Berdarah Subang Itu Digugurkan Jadi Paskibraka Karena Ini…

Gloria Natapradja Hamel (16) siswi kelas 10 SMA Dian Didaktika Cinere gugur menjadi anggota Paskibraka 2016 karena memiliki paspor Perancis. Ia merupakan putri tunggal dari Ira Natapradja, perempuan asal Subang, Jawa Barat. Sedangkan Ayahnya warga negara Perancis bernama Didier Hamel. Sejak tahun 90 an, keduanya tinggal di Megapolitan Estate di Jalan Sulawesi, Blok G, Nomor 96 A, Cinere, Depok.
 
Persoalan kewarganegaraan menyebabkan Gloria digugurkan sebagai calon Paskibraka, karena dianggap bukan warga negaraIndonesia (WNI) setelah diketahui memegang paspor Perancis.

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi memastikan, Gloria Natapradja Hameltidak akan bergabung bersama Paskibraka pada upacara bendera 17 Agustus 2016 di Istana Merdeka.

“Saya kira tidak ada kesempatan untuk Gloria berada di barisanPaskibraka di Istana,” ujar Imam di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (16/8/2016).

Sebelumnya, Menpora mengaku, masih akan mengusahakan Gloria untuk ikut Paskibraka dengan cara berkomunikasi dengan Kementerian Hukum dan HAM terkait dwi kewarganegaraan Gloria.

Meski tidak ada di dalam barisan pengibar atau pengawal pengibar bendera merah putih, Imam memastikan Gloria akan tetap ada di lingkungan upacara saat perayaan HUT ke-71 RI di Istana Merdeka pada Rabu (17/8/2016).

Ira, Ibunda Gloria mengatakan pencoretan anaknya di pengujung kerja kerasnya sebagai calonPaskibraka, lanjut Ira, merupakan pembunuhan karakter.

“Kalau memang tidak boleh, seharusnya dari awal saja. Ini malah sudah mau dikukuhkan, dicoret. Ini namanya pembunuhan karakter buat anak saya,” ujar Ira.

Ira pun mempertanyakan bagaimana negara memperlakukan warganya dengan sepantasnya jika putrinya diperlakukan demikian.

Apalagi, ia meyakini rasa nasionalisme Gloria yang tinggi.

“Gloria ini sedang belajar Indonesia, belajar mencintai Indonesia. Makanya dia mau ikut Paskibra. Tapi dipotong seperti itu,” ujar Ira.

Ketika awal kewarganegaraannya dipersoalkan, pihak Kemenpora dan Garnisun sempat menenangkan Gloria bahwa persoalan ini tidak akan menjadi besar. Gloria pun dijanjikan dapat tetap bergabung ke Paskibraka.

“Tapi ternyata tidak dan malah dicoret. Apa dihargai enggak sama negara usaha-usaha anak saya itu?” ujar dia.

Gloria sendiri mengaku merasa terkejut atas respon dari masyarakat terhadap apa yang dialaminya.

Ia tidak menyangka bila terdapat petisi daring yang mendukung dirinya agar tetap bisa mengibarkan Sang Saka Merah Putih.

“Kemarin saya pegang HP, saya lihat banyak yang komentar bahkan sudah ada petisinya. Tapi satu hal yang saya ingin katakan, saya tidak ingin jatuh karena hal ini,” kata Gloria di Media Center Kemenpora, Jakarta, Selasa (16/8/2016).

Untuk itu, Gloria memutuskan untuk melihat hasil dari latihan teman-temannya selama lebih dari lima bulan saat mengibarkan bendera merah putih di Istana Negara.

Gloria sempat merasa kesal dengan keputusan yang diperolehnya. Namun demikian, ia ingin sportif menegakkan peraturan.

“Karena peraturan adalah peraturan. Saya hargai Undang-undang (UU) Indonesia. Itu kan di PKN (Pendidikan Kewarganegaraan) dasar. Terapkanlah,” ucap Gloria.

Gloria mengaku merasa senang adanya berbagai pihak yang memberikan dukungan kepada dirinya. Ia mengucapkan terima kasih atas dukungan tersebut.

Sebelumnya diberitakan, Kepala Staf Garnisun Tetap I/Jakarta Brigjen TNI Yosua Pandit Sembiring mengatakan, pengguguran Gloria telah sesuai dengan aturan undang-undang.

“Dalam UU Nomor 12 Tahun 2006 jelas disebutkan, seseorang kehilangan warga negara apabila dia punya paspor (negara lain),” ujar Yosua, di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Senin siang.

“Ini Gloria sudah punya paspor. Kami cek, dia punya paspor Perancis,” kata dia.

Saat berbincang santai bersama Kompas.com, 8 Agustus 2016, Gloria mengaku bahwa sang ayah merupakan warga negara Perancis dan ibunya warga negara Indonesia.

“Tetapi, saya sudah confirm mau pilih (menjadi warga negara)Indonesia kok,” ujar Gloria. (Tribun)