Slider

GALERI

News

MUSIK

BUDAYA WISATA

Event

TIPS

SELEBRITIS

Mensos Sambangi Korban Banjir Bandang Subang

Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa meninjau lokasi banjir bandang di Kampung Cihideung Desa Sukakerti Kecamatan Cisalak Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat, Rabu (25/5/2016).

Dalam peninjauan tersebut, Mensos juga menyerahkan, bantuan dana santunan kematian masing-masing sebesar Rp 15 juta untuk lima orang korban meninggal, dan bantuan untuk korban luka berat masing-masing Rp 2,5 juta untuk enam orang.

Ditulis antara, Mensos juga menyerahkan akte kematian lima orang korban jiwa dalam bencana alam tersebut.

Selain itu, Mensos juga menyerahkan bantuan logistik senilai Rp 165 juta, satu unit mobil dapur umum lapangan senilai Rp 465 juta dan satu unit motor trail.

Total seluruh korban berjumlah 13 orang dan warga yang diungsikan mencapai 388 orang,  Korban meninggal dunia akibat bencana alam itu yakni Parmi, Yeni, Siti Latifah, Nabila dan Rizal.

Sedangkan warga yang mengalami luka berat lima orang dan luka ringan dua orang seluruhnya sudah mendapatkan penanganan medis.

Banjir bandang melanda pemukiman penduduk di Kampung Cihideung Girang, Desa Sukakerti, Kecamatan Cisalak, Minggu (22/5/2016) malam, menyebabkan korban jiwa dan kerugian materi. (gm)

Basarnas: Korban Banjir Bandang di Subang Telah Ditemukan dan Tertangani

Seluruh korban banjir bandang di Kampung Cihideung Girang, Desa Sukakerti, Kec.  Cisalak, Kab. Subang, Jabar, dinyatakan telah ditemukan dan ditangani. Hal itu disampaikan Koordinator Humas dan Protokoler Badan SAR Nasional Provinsi Jabar, Joshua Banjarnahor.

"Korban sudah ditemukan semua. Dari yang dicurigai hilang, sudah clear," tutur Joshua Banjarnahor Selasa (24/5/2016).

Joshua menyatakan, orang-orang yang sebelumnya dilaporkan menjadi korban baik yang mendapatkan luka berat, ringan hingga meninggal dunia, semuanya sudah tertangani.

"Total seluruh korban berjumlah 13 orang dan warga yang diungsikan itu mencapai 388 orang," tuturnya.

Ditambahkannya, saat ini pihak Badan SAR Nasional Provinsi Jabar sudah bergeser ke daerah lain seperti Kab. Bandung untuk siaga bila ada laporan pencarian korban. "Kita sudah balik kanan. Kalau untuk urusan bantuan, itu kewenangan BPBD," kata Joshua.

Dalam insiden yang terjadi Minggu (22/5/2016) malam itu, terdapat kerugian material dengan 16 rumah di Dusun Sukamukti mengalami rusak berat karena terbawa arus. Turut juga 16 rumah mengalami rusak ringan di Dusun Cihideung. Ada enam korban meninggal dalam peristiwa tersebut.

Korban meninggal yaitu Parmi (perempuan 50 tahun), Mae (perempuan 17 tahun), Nabila (Bayi Berumur tujuh bulan), Eni (perempuan berumur 45 tahun), Musa (Pria berumur 55 tahun) dan Rizal (laki laki berumur 10 tahun).

Sedangkan untuk luka berat diantaranya, Anen (buruh tani berumur 55 tahun), Raza (pelajar berumur 14 tahun), Ma'mur SR (perempuan berumur 47 tahun), Umnasih (perempuan berumur 53 tahun) dan H. Komar (Purnawirawan berumur 75 tahun). Dan untuk luka ringan yaitu Angga (berumur empat tahun), Tati Hartati (perempuan berumur 36 tahun).(GM)

Terkait Bendung Leuwinangka Petani Pagaden Barat Duduki Gedung DPRD Subang


Ada pemandangan berbeda di gedung DPRD Subang, Senin (23/5/2016) siang ini. Gedung tempat wakil rakyat bersidang itu, hari ini “diambilalih oleh rakyat sebagai pemiliknya, yaitu para petani Kecamatan Pagaden Barat. 

Lebih dari seratus petani kecamatan Pagaden Barat itu mengadukan nasibnya karena sudah lebih dari empat tahun mereka tidak bisa mencari nafkah dengan nyaman karena tak kunjung selesainya bendung Leuwinangka sebagai sumber pengiran sawah mereka.   

Sebelumnya bulan lalu mereka juga telah berembug atas inisiasi Danramil 0605 Subang di desa Cidadap. Ketika itu mereka menyepakati memberikan waktu selama 3 minggu kepada BBWS sebagai penanggungjawab bendung Leuwinangka untuk dapat mengalirkan air ke sawah warga. Tepat di minggu ketiga air bisa mengalir ke sawah warga namun tak lebih dari seminggu, beberapa hari kemudian tanggul sementara yang dibuat jebol lagi. 

Sahidin petani desa munjul mengatakan warga Munjul sudah tak ingin mendengar janji tektek bengek dari siapapun.  

Sementara Kusman, petani desa Balingbing mengungkapkan keheranannya dimana perbaikan bendung Leuwinangka selalu dilaksanakan pada musim hujan yang akibatnya selalu tidak maksimal perbaikannya karena tanggul sementaranya selalu jebol. 

Ketua Himpunan Petani Pagaden Barat yang juga koordinator aksi H. Ade Mulyana, S.Ag., M.Si., mengatakan intinya petani Pagaden Barat menanti turun tangan Pemerintah daerah untuk penyelesaian Bendung Leuwinangka dan tidak lepas tangan begitu saja kepada pihak lain. Dalam rembug tersebut disepakati pelaksanaan rembug berikutnya Jumat mendatang dengan mengundang kembali seluruh pihak terkait atas undangan DPRD Subang.   (KS)

Kisah Pilu Bocah Korban Banjir Bandang di Cisalak

Kaditu cai…kaditu cai… kaditu cai…“, teriak Neng (8) mengigau dalam tidur siangnya, Senin (23/5/2016) di rumah saudaranya yang menjadi rumah pengungsian sementara. Trauma mendalam sepertinya dialami dirinya, setelah pengalaman pahit harus dialami anak sekecil itu Minggu malam (22/5/2016), ketika ia dan keluarganya harus bejibaku mempertahankan hidup ditengah derasnya aliran air bah yang memasuki kediamannya di kampung Sukamukti, desa Sukakrti, Kecamatan Cisalak.
 
“Ketika itu saya baru mau beranjak beristirahat, cape sekali sejak pulang dari sawah sore hari,” kata Isur (45) ibu dari Neng.

Tapi tiba-tiba suara gemuruh terdengar dari balik rumahnya, dan tak lama kemudian air dengan derasnya masuk ke dalam rumah. Balok-balok kayu berukuran besar terdengar berdentum menambrak dinding rumahnya. Sementara itu suaminya Sumarna (50) berupaya mendorong balok-balok kayu tersebut agar tak mengenai kaca rumahnya.

Allahuakbar…tolong..tolong…,” teriak Isur. 

Demikian juga dengan Neng yang terus menerus memanggil-manggil ibu dan ayahnya. Namun apalah daya suara teriakan mereka kalah kencang dengan suara gemuruh air bah yang datang menerjang. Lagi pula tetangganya pun bernasib sama dengan mereka.

Di tengah kepanikan dan air yang terus menerjang, Sumarna berupaya membuat jembatan darurat dari balok-balok kayu dan bambu yang terbawa arus air. Dengan tumpukan kayu dan bambu tersebut akhirnya mereka bisa selamat keluar dari rumah ke daratan yang lebih aman.
Saksi mata lainnya Umuh (52) warga kampung Cihideung mengatakan, ketika itu hujan deras mengguyur kampungnya. Suara gemuruh tiba-tiba terdengar dalam derasnya hujan. Setekah melihat arus sungai Cihideung berubah menjadi air bah, sontak ia bersama warga lainnya berupaya mengungsikan seluruh warga ketempat lebih tinggi. 

Dalam sekejap suasana kampung menjadi panik, semua warga kemudian mengungsi meninggalkan rumah.

Umuh menyaksikan sendiri kedahsyatan air bah yang menerjang kampungnya. Dirinya melihat kandang domba hayut terbawa arus sungai, masih lengkap dengan domba di dalamnya, demikian juga dengan kandang ayam yang penuh dengan ayam-ayamnya. Ratusan ton ikan dalam kolam air deras terbawa arus, ikan-ikan yang lepas itu memenuhi halaman-halaman rumah warga.

Sementara di kampung yang berada lebih kehulu yaitu dikampung Sukamukti keadaan lebih parah. Bahkan menurut Umuh ada warga yang harus berjuang mempertahankan hidup dengan memanjat pohon kelapa hingga banjir surut.

Menurut Umuh banjir bandang tersebut terjadi dalam 3 gelombang. Gelombang ke tiga merupakan yang terbesar dan meluluhlantakan kampung disekitar aliran sungai Cihideung. Penyebab air bah tersebut adalah longsor di tiga titik di daerah Bukanagara yang merupakan hulu sungai Cihideung. Longsoran tersebut membendung menutup aliran sungai sebelum kemudian jebol dan menyebabkan banjir bandang.

Enam orang dinyatakan tewas dalam banjir bandang yang menimpa desa Sukakerti, Kecamatan Cisalak tersebut. Beberapa mengalami luka-luka dan lebih dari 300 orang terpaksa diungsikan karena belasan rumah mengalami kerusakan.(KS)

BANJIR BANDANG CISALAK KABUPATEN SUBANG JAWA BARAT MINGGU 22 MEI 2016


Pemprov Jabar Akan Bantu Pemkab Subang dalam Penanganan Korban Bencana Banjir Bandang Cisalak

Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, meminta Pemkab Subang segera menyelesaikan pendataan kerugian harta Benda para korban banjir bandang, yang terjadi Minggu malam lalu, di Dusun Ciheudeung Kampung Sukakerti dan Kampung Sukamukti Desa Sukakerti Kecamatan Cisalak.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Subang, Arifin, Selasa (24/5/2016). Kerugian materi yang dialami para Korban itu harus secepatnya diketahui, agar kerugian para korban itu bisa secepatnya ditanggulangi oleh Pemerintah.
Untuk masa tanggap darurat dalam penanganan para korban bencana banjir bandang tersebut, Pemkab Subang harus mengacu kepada ketentuan Undang-undang tentang penanganan bencana, dan kondisi psykologis para korban, serta kondisi alam.
 
Di bagian lain Arifin menyatakan, jika sudah diinventarisir data kerugian para Korban, apabila Pemkab Subang tidak memiliki anggaran untuk menanggulangi kerugian para korban bencana termasuk memperbaiki rumah para korban, Pemerintah Provinsi siap membantu Pemkab Subang. (Ruslan Effendi/AKS)

Demiz : Banjir Bandang Subang, karena Hulunya Sudah Rusak

Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar meminta penanganan bencana banjir bandang di Cisalak Kabupaten Subang harus menjadi prioritas utama. Termasuk juga pemenuhan logistik, dan pemukiman bagi korban bencana.

"Saat ini yang harus diperhatikan adalah logistik dan tempat pemukiman sementaranya, termasuk juga tim kesehatan. Semuanya harus terpenuhi. Karena banyak juga rumah yang kena banjir bandang, bahkan lahan pertanian,"jelas Deddy kepada wartawan, Selasa (24/5/2016).

Dikatakannya, pihaknya sangat prihatin dengan musibah bencana banjir bandang di Kabupaten Subang. Apalagi musibah tersebut telah menimbulkan korban jiwa dan banyak masyarakat yang terkena musibah.

"Saya sangat prihatin, apalagi ada 5 orang yang meninggal. Tentunya itu perlu dilihat apanya yang rusak. saya kira itu mungkin dihulunya yang rusak sehinga air datang begitu sangat besar," katanya.

Menurutnya bencana banjir bandang yang terjadi disana tidaklah lepas dari dampak terjadinya kerusakan lingkungan di wilayah tersebut. Sehingga hal itu pun menimbulkan bencana ke masyarakat.
"Saya kira kemungkinan dihulunya sudah rusak, jadi ga ada resapan air yang cukup besar lagi. Ini aneh padahal hujannya tidak terlalu besar seperti tahun lalu, hujannya biasa saja, mungkin ada kerusakan dihulu sungai. Kita lihat nanti, tapi yang jelas saat ini tangani dulu korban, terutama untuk kebutuhan logistik, pemukiman Sementara dan kesehatannya," jelas pria yang akrab disapa Demiz tersebut.

Terkait itu, lanjutnya, untuk mengantisipasi bencana lainnya, pihaknya pun meminta masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai. Sebab, banjir pun bisa terjadi akibat aliran sungai yang tidak bisa menampung banyak air akibat tumpukan sampah dan sedimentasi.
"Sedimentasi, sampah. Ini jadi masalah kita tiap tahun," ujarnya.

Tidak hanya itu saja, lanjutnya, pihaknya pun menghimbau pemerintah kabupaten/kota yang belum memiliki BPBD agar segera membuatnya. Sebagai daerah paling rawan bencana, sudah seharusnya semua daerah di Jabar memiliki BPBD.

Menurutnya dengan hadirnya BPBD di setiap kabupaten kota, itu akan mempermudah penanganan bencana terutama menyangkut penyaluran bantuan.

"Setiap daerah harus punya BPBD. Jadi di mana di Jabar yang enggak ada potensi bencananya? Sudah berkali-kali saya ngomong,"katanya. (gm)