Slider

GALERI

News

MUSIK

BUDAYA WISATA

Event

TIPS

SELEBRITIS

PN Subang Vonis 2 Orang Pembunuh

Pengadilan Negeri Subang menjatuhkan vonis masing-masing hukuman 20 tahun penjara kepada 2 pembunuh. Pembacaan vonis dipimpin Hakim Ketua Lo Sitorus, SH, MH, yang didampingi Hakim Anggota Beni Sudarsono, SH; dan Hendrawan Nainggolan, SH. Kedua terdakwa berinisial YC (18) dan DR (19) warga Dusun Baru Desa Mulyasari, Kecamatan Pamanukan terbukti bersalah melanggar KUH Pidana Pasal 406 yo 356 jo 338. Pembacaan di gelar di ruang Sidang I Pengadilan Negeri Subang, Rabu (25/2/2015).
Dalam sidang kedua terdakwa terbukti melakukan pembunuhan dengan sadis kepada rekannya, Deris Priyanto (18) warga Dusun Cibarengkok Desa/Kecamatan Binong. Deris tewas dengan luka pada bagian tubuhnya akibat dihantam batu oleh dua pelaku. Mayat Deris ditinggalkan pelaku pada area pesawahan di Dusun Sari Mukti Desa Rancasari Kecamatan Pamanukan, Sabtu (26/7/2014) pukul 06.00 WIB.

Dua tersangka pembunuhan saat melakukan aksi pencurian sepeda motor, ditangkap saat berada di rumah mereka di Pamanukan. Dari pemeriksaan, keduanya mengaku telah membunuh korban, dan mengambil sepeda motornya.

Kasus ini berawal dari kedua tersangka mendatangi rumah korban dan meminta diantar ke Pamanukan karena sepeda motor tersangka mogok. Sepeda motor mogok didorong menggunakan motor korban dengan cara menekannya dengan kaki. Setelah sampai di Pamanukan, mereka bertiga sempat minum kopi di warung.

Kedua tersangka merencankan aksi pencurian sepeda motor korban. Saat itu korban diajak pergi ke sawah menggunakan motor milik korban. Setibanya di sebuah gubuk, tersangka menghantam kepala korban dengan batu. Korban berusaha lari tetapi dikejar tersangka dan tertangkap. Kepalanya kembali dipukul batu dan ditusuk pisau pada bagian dada serta perutnya hingga terjatuh dan tewas.

Padang Pariaman pelajari pertumbuhan industry di Subang

4 orang anggota DPRD Kab Padang Pariaman dari Komisi III melakukan studi banding dalam rangka mempelajari pengelolaan dan teknis sumber pendapatan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). 

Rombongan yang dipimpin Wakil Ketua DPRD Kab Padang Pariaman, Januar Bakri, SH itu diterima Asisten Adminitrasi dan Pembinaan Aparatur (Asda III), H. Saad Abdulgani, SH, M.Si, di Ruang Rapat Bupati Subang, Rabu (25/2/2015). 

Menurut Januar, dipilihnya Kabupaten Subang sebagai tujuan studi banding karena memiliki banyak kesamaan walaupun jumlah penduduk "hanya" 400 ribuan tetapi potensi kekayaan alamnya relatif sama. Kata Januar, pihaknya ingin mengetahui strategi menarik investor dari luar untuk menanamkan modalnya. 

Dikatakan oleh Saad, upaya menarik mengundang dilakukan dengan ekspose sampai ke luar negeri, sebagian besar ke Korea Selatan. Maka dari itu 90% Penanam Modal Asing (PMA) dari negara Kores Selatan dengan jenis usaha pabrik garmen. 

Selanjutnya menurut Kasubid Pelayanan KB, Dra. Nunung Suryani, dari BPMKB pertumbuhan industri membawa fenomena migrasi penduduk maka perlu menyediakan layanan kesehatan di tempat kerja. Termasuk pelayanan Keluarga Berencana (KB) bagi pekerja ditengah kegiatan kerja.

Dengan tumbuhnya industri potensi PAD bagi pemerintah daerah ialah biaya Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Ijin Gangguan (IG/HO). Selebihnya pendapatan menjadi wewenang pemerintah pusat kecuali Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).(Humas Subang)

Gadis Cantik Pemain Kendang, Inspirasi Untuk Remaja Subang

Wajahnya ayu. Kebaya warna coklat tampak serasi membalut tubuh mungilnya. Dengan semangat ia menaiki panggung di gedung kesenian SMKN 10 Bandung (dulu SMKI). Rabu (25/2/2015) kemarin, ia harus menjalani Uji Kompetensi dengan memberikan penampilan terbaiknya di bidang Karawitan yang ia pelajari selama 3 tahun bersekolah di sana. Uji kompetensi itu dikemas dalam sebuah pertunjukkan seni yang sesungguhnya. Ratusan tamu undangan dan para penikmat seni tampak hadir menyaksikan acara tersebut. Sontak saja, hal ini menarik perhatian. Bagaimana tidak, seorang wanita mungil yang cantik akan memainkan kendang yang biasanya dimainkan oleh laki-laki.

Ya, namanya Julaeha atau biasa dipanggil May oleh kawan-kawannya. Gadis kelahiran Sumedang 18 Juni 1997 ini memang berbeda dengan  gadis lainnya. Di saat gadis-gadis seusianya keranjingan K-POP ia justru mendalami seni sunda, di saat wanita seusianya sedang hobi dandan ia justru mau belajar kendang yang sangat jauh dari hobi feminis dan lebih berkesan gahar karena biasanya hanya dimainkan oleh laki-laki.

Sebagian hadirin mengira, kendang yang akan dimainkan May seperti halnya dalam tarian rampak kendang yang biasa dibawakan para wanita. Ternyata lebih dari itu, ia memainkan kendang seperti halnya pemain kendang laki-laki lainnya. Dengan mudah ia berhasil mengiringi musik Kiliningan yang ditampilkan bersama kelompok seninya. Bahkan ia juga dengan lancar bisa mengiringi ketuk tilu yang musiknya lebih dinamis. 

Ditangannya, memainkan kendang seperti terlihat mudah, senyumnya terus mengembang dari wajah cantiknya selama penampilannya. Padahal, membutuhkan fisik yang kuat untuk bisa meminkan kendang apalagi dalam waktu yang tidak sebentar. Di setiap akhir penampilannya selalu diganjar tepuk tangan meriah dari para hadirin. May mengaku sudah mulai memainkan kendang pada saat usianya masih belia, yaitu sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. 

May mengungkapkan orantuanya mulai dari kakek buyut hingga ayahnya semuanya merupakan seniman. Kakek buyutnya seorang pemain rebab, kakeknya pemain reog, sementara ayahnya berkecimpung dalam berbagai kesenian dari mulai jaipongan, kuda renggong hingga reak.
Kecintaannya pada dunia seni kemudian membawanya ke SMKN 10 Bandung untuk memperdalam seni sunda. Di sekolah ini ia kemudian mendalami instrumen kendang. Sebuah alat musik yang tak lazim untuk seorang wanita.

Mengenai telapak tangannya yang kini menjadi kasar karena terlalu sering memainkan kendang, May mengaku tak memperdulikannya.Lulus dari SMKN 10 Bandung May berniat melanjutkan studinya di bidang kesenian. Pilihannya antara Universitas Pendidikan indonesia atau ke Sekolah Tinggi Seni Indonesia.Siswa lainnya yang mengikuti uji kompetensi adalah Robi Gunawan. 

Sama halnya dengan Juleha, remaja kelahiran 23 April 1997 ini juga mendalami kendang selama pendidikannya di Sekolah. Berawal dari ajakan teman-temannya bermain calung ketika dibangku SMP. Kemudian ia ketagihan mendalami seni sunda. Di saat teman-teman seusianya menyenangi perbengkelan di SMK, ia justru mendalami kendang dan bersekolah di jurusan kesenian. 

Selain Robi dan Juleha adapula Ayang Aprilianti, berbeda dengan keduanya Ayang menggeluti kawih sunda selama bersekolah. Berawal dari juara lomba pupuh ketika SMP, ia kemudian ingin memperdalam seni sunda, hingga masuk ke SMKN 10 Bandung dan mendalami karawitan terutama kawih sunda.(kotasubang)

Di Depan Kader PDIP Subang, Ketua DPD PDIP Jabar: Jabatan Tong Dilebok Sorangan

foto: Ketua DPD PDIP Jjabar TB Hasanudin saat berbicara di depan ratusan kader PDIP Subang
Tinjau-Subang . Ketua DPD PDIP Jabar TB Hasanudin mengingatkan kadernya yang sedang menjabat di posisi strategis untuk mengutamakan kepentingan orang banyak, bukan kepentingan pribadinya.

Hal itu disampaikan saat menyampaikan pidato di depan ratusan kader PDIP di ruang pertemuan Wisma Karya Subang. Pesan itu saat Hasanudin bicara soal pengurus anak cabang (PAC) yang hanya tinggal menunggu SK-nya saja.

"Jangan sampai jabatan (PAC) itu untuk kepentingan pribadi, tapi untuk kemaslahatan partai. Ini termasuk untuk ketua DPC dan Bupati, jangan dilebok sorangan," kata TB Hasanudin yang disambut aplaus ratusan kader PDIP.

Dalam orasi politik, politisi asal Majalengka itu memang menggunakan dua bahasa, yakni Indonesia dan bahasa ibu, Sunda. Dari atas panggung, Hasanudin sering melempar candaan yang mengundang ketawa.

Hasanduin optimistis dan yakin, kader terbaiknya yang menduduki posisi Bupati dan Ketua DPRD memberi manfaat kepada masyarakat dan kader PDIP. "Pak Beni Rudiono (Ketua DPRD) dan Pak Ojang Ohandi (Bupati) akan bermanfaat untuk warga Subang, khususnya kader partai. Kalau tidak, ya diingatkan, ga harus bawa massa," jelasnya.

Saat ini, DPC Subang sedang mencari ketua definitif. Ada enam calon yang direkomendasikan ke DPP PDIP, yakni Beni Rudiono, Maman Yudia, Ojang Sohandi, Ating Rusnatim, Acah, dan Juena. "Dari enam orang ini, diturunkan menjadi tiga orang. Nah yang tiga orang ini musyawarah membentuk kepengurusan. Saya pesan, dalam kepengursan harus 30% dari perempuan," jelasnya.

Hasanudin menjelaskan, dirinya tidak terlibat langsung soal pemilihan. Dengan berkelakar ia mengatakan dirinya hanya ngetok palu saja. "Siapapun yang terpilih saya tidak punya kepentingan, siapapun yang terpilih saya setuju. Pesan saya Ketua harus besarkan partai," tandasnya.

Diduga Hasil Mesum, Bayi Malang ini Dibuang ke Sungai daerah Ciasem Subang

Photo:Ilustrasi
Tinjau Subang - Bayi yang diduga berumur empat hari ditemukan membusuk dalam aliran Sungai Cijengkol, Sukamandi, Kecamatan Ciasem, Subang, Rabu (25/2/2015) pagi. Dugaan sementara bayi itu hasil hubungan kumpul kebo ibunya.

Penemuan bayi itupun kemudian dilaporkan ke pihak kepolisian setempat. Petugas yang datang langsung mengevakuasi bayi nahas itu. Informasi yang dihimpun, bayi itu dibuang hasil aborsi, karena kelahirannya tidak diinginkan. 

"Saat ditemukan kondisi bayi itu sudah dalam kondisi membusuk, kemungkinan dibuang sekitar 4 hari lalu. Bayi ini masih ada tali ari-ari," kata Kapolsek Ciasem, Kompol Sumana Wadi,

Pihak kepolisian masih lakukan penyelidikan penemuan bayi itu. Dari informasi bayi malang itu diduga hasil hubungan gelap sengaja dibuang oleh pelaku untuk menutupi aib. Bayi malang itu diserahkan ke Pemerintah Desa Sukamandi untuk kemudian dimakamkan," pungkasnya. 

Hari Peduli Sampah, Siswa di Blanakan Bersihkan Kampung

Setiap tahun sekitar 8,8 juta ton plastik berakhir di laut-laut di seluruh dunia. Indonesia saat ini dijuluki sebagai penyumbang sampah di laut terbesar kedua di dunia. Memang bukan prestasi yang membanggakan, akan tetapi kondisi ini perlu segera dibenahi. Peran generasi muda untuk membawa Indonesia yang lebih baik sangat diperlukan.

Sebuah inisiasi lokal yang diharapkan dapat merubah kondisi global, mulai digagas oleh komunitas anak muda di SMAN 1 Blanakan, salah satu sekolah dampingan DeTara Foundation dan PT. PHE-ONWJ. Komunitas anak muda tersebut merupakan kumpulan dari siswa/anak muda yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan menamakan dirinya komunitas SULING (Suara Lingkungan). 

SULING baru terbentuk pada tanggal 13 Januari 2015 lalu. Komunitas yang masih baru ini menamakan dirinya SULING karena ingin tetap menampilkan kekhasan daerah setempat serta membawa nilai cinta lokalitas untuk memberi manfaat seluas-luasnya, termasuk terhadap lingkungan.

Sabtu (21/2/2015) lalu, komunitas SULING menyelanggarakan aksi lingkungan pertamanya“Peringatan Hari Peduli Sampah 2015” bekerjasama dengan DeTara Foundation. Rangkaian kegiatan-kegiatan diselenggarakan untuk memeriahkan peringatan hari sampah 2015 di SMAN 1 Blanakan dan sekitarnya,

100 Pemuda Ikut Pembinaan Organisasi Kepemudaaan

Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbusparpora) menggelar pembinaan organisasi kepemudaaan yang diikuti 100 pemuda yang merupakan perwakilan dari setiap kecamatan di Subang.Kadisbudparpora H Asep Nuroni SSos, melalui Drs Aries Witarsyah Kabid Pora didampingi Kasi Pembinaan Pemuda Lita Pelitiani SH MM mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan memberikan pembekalan bagi para pemuda. Agar nantinya, pemuda memiliki kemampuan dan keterampilan tentang tata kelola manajemen organisasi kepemudaan.

“Pesertanya sebanyak 100 orang yang merupakan perwakilan dari 30 kecamatan se-Kabupaten Subang. Para pemuda dibekali mengenai keterampilan ke organisasian"
 
Sementara itu, Ketua Karang Taruna Kabupaten Subang Heri Susanto yang didaulat sebagai salah seorang pemateri, memaparkan tentang manajemen organisasi di karang taruna. Heri berharap kegiatan ini terus dilakukan, agar para pemuda mengetahui cara mengelola suatu organisasi dengan baik. Pada kesempatan tersebut, turut hadir Nurul Mumin SH anggota DPRD Subang. 

Mumin mengatakan, kegiatan seperti ini diperbanyak, agar para pemuda memiliki kemampuan dan keterampilan sehingga dapat menghadapi tantangan yang kompleks di era pasar global.“Harus diperbanyak kegiatan seperti ini. Perlu dilakuakn pelatihan dan pembekalan, agar diharapkan pemuda sebagai generasi penerus bangsa menjadi  mandiri, berdaya saing,” tegasnya.

Hal serupa juga diungkapkan salah seorang peserta Adi Mulyadi. Menurutnya, para pemuda di daerah memilki kemampuan dan pengetahuan yang natinya bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Ini bisa jadi pengetahuan dan bekal untuk nantinya diimplementasikan masyarakat,” pungkasnya.