» » Lanud Suryadarma, Kalijati, Subang

Pangkalan Udara Leluhur TNI AU
Inilah pangkalan udara militer pertama yang dibangun pemerintah Hindia Belanda di Bumi Pertiwi, sekaligus menjadi pangkalan udara leluhur bagi TNI AU. Di lanud yang akan berusia satu abad pada tahun 2014 ini, Belanda juga mendirikan sekolah penerbangnya. 

Sebelum membangun pangkalan-pangkalan udara seperti Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta (1938), Pangkalan Udara Maospati, Magetan (1939), dan pangkalan udara besar lainnya, pemerintah Hindia Belanda telah melakukan survei ke beberapa tempat yang lokasinya tidak jauh dari ibukota, Batavia. Berbagai tempat dikaji dan akhirnya pilihan jatuh ke sebuah wilayah di Subang, Jawa Barat yang berkontur tanah bagus dan bercuaca cenderung stabil sepanjang tahun. Wilayah itu adalah Kalijati, yang kini merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Subang.

Pemerintah Hindia Belanda membangun lapangan terbang di Kalijati tanggal 30 Mei 1914 bersamaan dengan dibentuknya PVA (Proef Vlieg Afdeling), yaitu suatu Bagian Penerbangan Percobaan dari Pasukan Hindia Belanda (KNIL). Pada tahap permulaan KNIL membeli dua pesawat terbang air Glenn Martin dari Amerika Serikat dan menempatkannya di pangkalan udara air (Sea Base) di Tanjung Priok. Namun karena dirasa tidak efektif, pesawat pun kemudian dimodifikasi menjadi pesawat yang bisa terbang di landasan rumput dan operasionalisasinya dipindahkan ke Kalijati.

Dari situlah KNIL kemudian berkeinginan untuk memiliki pesawat terbang yang berpangkalan di darat. Lapangan Terbang Kalijati yang hanya berupa lapangan rumput sederhana digunakan untuk lepas landas dan pendaratan pesawat. Sementara pesawatnya ditempatkan di bangsal yang terbuat dari bambu. Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan pesawat cepat mengalami kerusakan. Perlahan Belanda pun mulai membangun Lanud Kalijati berikut fasilitas pendukungnya seperti landasan yang lebih kokoh, tower, hanggar, perkantoran, dan pemukiman personelnya.

Berdasar sejarah lintasan Lanud Kalijati yang dibuat oleh Mabesau disebutkan, tahun 1917 PVA selanjutnya mendatangkan pesawat-pesawat baru. Terdiri dari delapan pesawat pengintai dan empat pesawat latih. Belanda pun mendirikan Sekolah Penerbangan Pertama di Indonesia dilanjutkan dengan perubahan PVA menjadi LA (Luchtvaat Afdeling), yaitu bagian penerbangan yang terdiri dari VD (Vlieg Dienst) atau Dinas Terbang dan TD (Technise Dienst) atau Dinas teknik. Pada kemudian hari, tanggal 1 Januari 1940 LA diubah lagi menjadi ML (Militaire Luchtvaart) yaitu Penerbangan Militer yang merupakan bagian kesenjataan KNIL.

Tanggal 1 Maret 1942 pada saat Jepang datang untuk menginvasi tanah Jawa melalui tiga tempat: Merak, Pantai Eretan Wetan (pesisir Indramayu), dan Kranggan (Jawa Tengah), Lanud Kalijati menjadi sasaran utama penaklukkan pemerintahan Hindia Belanda. Dari Pantai Eretan, Jepang menurunkan sekitar 3.000 pasukan bersepeda dipimpin Kolonel Shoji dilengkapi dengan pansernya. Mereka merayap masuk menguasai Kalijati dan akhirnya berhasil mengusir tentara Hindia Belanda menuju arah Bandung.

Setelah terdesak dengan perlawanan tak berarti, Belanda akhirnya menerima tawaran Jepang untuk menyerahkan kekuasaannya di Bumi Nusantara tanpa syarat. Akhirnya pendandatanganan pun dilakukan oleh kedua belah pihak di satu rumah dinas militer Belanda yang kini dikenal dengan nama Rumah Sejarah di Lanud Suryadarma.

Penggunaan sarana prasarana Lanud Kalijati oleh Pemerintah Republik Indonesia pertama kali dilaksanakan pada tanggal 27 Desember 1949 bersamaan dengan pengakuan Kedaulatan Republik Indonesia oleh Pemerintah Belanda. Lanud ini selanjutnya digunakan oleh TKR Jawatan Penerbangan sebagai Pusat Pendididkan untuk melatih tenaga-tenaga penerbang dan teknik.

Operasi Boyong
Di tempat lain, bersamaan dengan pembentukan Wing Operasi 004 tanggal 25 Mei 1965 di Lanud Atang Sendjaja, Bogor, Skandron Udara 7 dibentuk. Wing Operasi 004 merupakan satuan setingkat brigade yang dibentuk untuk mewadahi satuan-satuan helikopter TNI AU. Skadron helikoter di jajaran ini melaksanakan kegiatan beragam mulai dari angkutan VIP, logistik, evakuasi medis, SAR (Search and Rescue), mobilitas udara, dan lainnya. Khusus Skadron Udara 7 dibentuk guna menaungi helikopter jenis Mi-4, SM-1, Bell Trooper, Bell Ranger, Bell 47G Soloy, dan Bell 204 Iroquois.

Pada awal pembentukannya Skadron Udara 7 melaksanakan tugas operasi sesuai situasi negara saat itu. Tugas Skadron Udara 7 dari tahun ke tahun meningkat baik dalam bidang operasi militer maupun operasi kemanusiaan. Beberapa operasi militer yang pernah dilaksanakan di antaranya Operasi Penegak (1965), Operasi Sambar Kilat (1967), Operasi Wisnu (1972-1980), Operasi Tonggak (1976), Operasi Tumpas dan Operasi Seroja (1977), Operasi Gerakan Kesejahteraan Masyarakat di Irian Jaya dan Daerah Istimewa Aceh (1990), serta Operasi Darurat Militer di Nanggroe Aceh Darussalam (2004-2005).

Sedangkan operasi kemanusiaan misalnya pada 1965 melakukan pertolongan dan penyelamatan penumpang kapal Norwegia, Carval, di Ujung Kulon awal 1966 dan membantu petani di Kabupaten Rembang untuk membasmi hama yang menyerang ladang kelapa. Di tahun yang sama, Skadron Udara 7 juga melaksanakan tugas SAR penduduk Blitar dan Kediri akibat bencana meletusnya Gunung Kelud. (Sumber http://tni-au.mil.id/pustaka/lanud-suryadarma-kalijati-subang)

About www.gspradio.com

Terimakasih telah berkunjung di GSP Radio.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama