» » Telusur Sejarah Subang Larang

Kehadiran situs Subang Larang yang terletak di Desa Nanggerang, Kecamatan Binong, Kabupaten Subang, merupakan salah satu fenomena sejarah lokal yang sempat menarik perhatian masyarakat. Ketertarikan masyarakat terhadap situs ini berhubungan dengan figur tokoh yang dimakamkan yaitu Nhay Subang Larang.

Hal tersebut menimbulkan mendorong beberapa instansi terkait untuk melakukan kajian mengenai situs Subang Larang. Maka pada tahun 2012 lalu, Disbudparpora Kabupaten Subang, Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang, dan Balai Arkeologi Bandung mengadakan studi teknis Subang Larang guna mendapatkan data yang valid.

Khadar Hendarsyah, M.Hum yang saat itu bergabung sebagai tim peneliti studi teknis Subang Larang mengunkapkan, Hasil studi teknis ini akan berguna sebagai bahan tindakan penanganan situs cagar budaya agar tidak menyalahi ketentuan perundang-undangan. Studi ini dilakukan dari berbagai sudut keilmuan yaitu arkelogis dan histori.

Menurut peneliti dan juga sejarawan yang berasal dari Dinas Budaya dan pariwisata (Disbudparpora) Kabupaten Subang itu, laporan situs tersebut disampaikan secara lisan oleh masyarakat. Berstatus sebagai inventarisasi situs cagar budaya Provinsi jawa Barat. Namun, belum ditetapkan sebagai cagar budaya.

Dari keberadaan situs Subang Larang ada kesadaran baru yang tumbuh di kalangan masyarakat dan pemerintah untuk menelusuri sejarahnya. Tumbuh kebanggaan apabila di masa lalu pernah terlahir tokoh-tokoh yang berperan penting dalam perjalanan sejarah kawasannya. Namun dari sisi sejarah, situs Subang Larang masih memiliki banyak kekurangan karena sumber sejarah diperlakukan kurang kritis.

Berdasarkan studi teknis, kemunculan istilah situs Subang Larang berawal dari inisiatif Endang Haerudin selaku juru pelihara Kabuyutan Gelok. Setelah itu beliau berkenalan dengan Dasep Arifin dari Kabuyutan Sunda Lembaga Adat Keraton Pajajaran. Dari Bah Dasep, terungkaplah informasi mengenai pantun Layon Kobong yang menyebutkan keberadaan Nhay Subang Larang di daerah Desa Nanggerang (Amparan Jati).

Kepala Museum Wisma Karya Subang, Yusep Wahyudin, SPd MHum menuturkan bahwa situs Subang Larang dibicarakan dalam buku Membuka Tirai Sejarah Makam Subang Larang (2011) yang ditulis oleh Wawan Irawan ditulis berdasarkan pantun Layon Kobong.

Penulisan sejarah yang berkaitan dengan Nhay Subang Larang masih mengandung kelemahan, terutama dipandang dari segi metode sejarah. Dari sisi pencarian sumber masih harus ditemukan lebih banyak lagi sumber-sumber yang dapat meyakinkan. Penggunaan pantun harus ditunjang dengan pembanding lain,.

Pernyataan Yusep diperkuat oleh Khadar Hendarsyah, MHum yang menerangkan bahwa penemuan hasil ekskavasi lebih mengarah pada tinggalan budaya masa pra sejarah. Contohnya adalah penemuan fragmen gerabah, manik-manik, serta sisa tulang manusia yang mengindikasikan bahwa situs ini merupakan situs masa zaman pra sejarah.

Menurut keduanya, studi teknis menunjukan bahwa penemuan artefak yang dihubungkan dengan situs Subang Larang baru terbukti sebagai tinggalan masa prasejarah. Padahal Nhay Subang Larang bukan cerita pada zaman prasejarah. Maka dibutuhkan penelitian yang lebih dalam untuk membuktikan kebenaran keberadaan makam Nhay Subang Larang.  

Padahal pada 30 Juni 2011 lalu, Pemkab Subang telah mendeklarasikan situs di Desa Nanggerang Kecamatan Binong sebagai makam Nyi Subang Larang. Deklarasi dihadiri para budayawan, seniman dan para pejabat Pemkab dan DPRD Subang.

Sejak deklarasi, situs tersebut dikelola oleh sebuah yayasan. Mengelola lahan seluas kurang lebih 6.000 m2. Pemilik lahan tersebut bernama Sanjaya kini menjadi Ketua Yayasan.(pe)

About RadioGsp Pamanukan

Terimakasih telah berkunjung di GSP Radio.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama