» » Melampaui Batas Menuju Kampiun Atletik Peparnas 2016

Sekilas tak ada yang ganjil. Malah mungkin banyak minder jika melihat postur dan balutan otot sekujur badannya. Terlihat jelas tempaan olahraga yang membuatnya kekar.

Kepercayaan dirinya pun meyakinkan. Selama berdiskusi tak tergores rasa minder. Artikulasi jawaban nyaring terdengar dengan intonasi riang penuh adrenalin. Ketika ada satu-dua yang lewat, tegur sapa demikian hangat.

Ya, siapa sangka jika pria itu, Johannes Billy. Dia adalah atlet paralimpik kebanggaan Jawa Barat khususnya. Sedikit keterbatasan tak menyurutkannya untuk berprestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Terakhir, pria tegap gagah ini menjadi atlet pertama dari Indonesia yang meraih emas dalam ASEAN Para Games (APG) 2015 dan akhirnya menghantarkan Indonesia menjadi runner up ajang tersebut di Singapura, Desember lalu.

Johannes adalah atlet atletik kategori lempar lembing F44. Emas APG 2015 dicetaknya dengan lemparan sejauh 53,74 m atau rekor baru atas nama sendiri dalam helatan APG 2013 Myanmar sejauh 51,03 m.

Dia juga langganan juara nasional, termasuk pada PON XIV Riau 2012. Dalam kejuaraan dunia atletik International Paralympics Comitte 2015 di Doha Qatar, Johannes sempat ikut juga namun belum beruntung. Poin internasional dari aneka keikutsertaannya di kancah global baru 1, hal yang membuatnya tidak bisa ikut Paralympic di Rio, Brasil, Agustus lalu. 

Cerita menggugah serupa datang dari Kendrik, atlet lempar lembing kategori F42 asal Kalimantan Selatan. Seperti halnya Johanes, keterbatas tak membuatnya patah semangat. Ia bahkan melakukan ketelatenan tanpa putus asa.

Latihan spartan terus dilakukan, sehingga tempaan fisik membuat badan pria berdarah Cirebon ini sama kekar. Uji tanding dan mengenal lawan juga sudah dilakukan. "Waktu Peparnas 2012, saya baru dapat perak. Semoga tahun ini dapat emas, bisa bawa medali ke Kalimantan Selatan," katanya saat dijumpai di lokasi serupa.
Lampaui Keterbatasan 

Baik Johannes maupun Kendrik dan sekitar 2.300 atlet Peparnas XV Jawa Barat pada 15-24 Oktober 2016, adalah orang-orang yang tak pernah mengeluh dengan keterbatasan. Keterbatasan malah menjadi pelecut, bukan menghambat aktivitas. Situasi inilah yang dikehendaki aktivis olahraga paralimpik, khususnya sang pionir, Sir Ludwig Gutmann yang pertama mendirikan pusat penanganan para difabel tahun 1944 lalu. 

Pertandingan Stoke Mandeville Sir Ludwig Gutmann yang melibatkan para veteran Perang Dunia II yang menderita cacat saraf tulang belakang di tahun 1948, menjadi pertandingan olahraga paralimpik pertama di dunia. Inilah embrio Paralimpiade pertama di dunia tahun 1960 di Roma, Italia. 

Pun demikian, perlu waktu 44 tahun kemudian, atau tepatnya tahun 1988 di Seoul, Korea Selatan, makna Para benar-benar memantik kehormatan atas prinsip kesetaraan. Kala itu, Paralympic digelar dua pekan selepas Olimpiade Seoul 1988. Maka, pudar sudah asosiasi kosakata Para yang merujuk tersebut pada Paralisis (kelumpuhan) dan Paraplegia (penurunan sensor motorik/sensorik). Padahal sedari awal Para ini berasal dari Bahasa Yunani yang artinya berdampingan. Paralimpik yang pelaksanaanya berdampingan dengan pelaksanaan Olimpiade.

Selepas momentum kesetaraan Seoul 1988 tadi, Paralimpiade selalu disandingkan Olimpiade dengan kehadirannya bukan sekedar mendampingi, namun tiada ubahnya dengan atmosfer kompetisi tinggi dari Olimpiade. Sarana prasana yang digunakan pun masih sama, bahkan prestasi yang dibuat tak jarang melampaui prestasi para pahlawan olahraga normal.
Termasuk soal motto Citius, Altius, dan Fortius dari Olimpiade, dalam beberapa Paralimpik terakhir muncul jargon "Spirit in Motion." Atau menampilkan prestasi olahraga sebanyak yang dapat mereka (olimpian) dapat tampilkan.

Tak ayal, Gubernur Jawa Barat selaku Ketua PB PON dan Peparnas 2016 Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher) menuntut prestasi optimal atlet Peparnas Jawa Barat seperti dirinya meminta prestasi maksimal dari atlet Jawa Barat di PON 2016. 

"Kalau ada 300 medali, maka harus serakah dapat semuanya. Tidak ada istilah berbagi dalam prestasi, kalau bisa semuanya direbut maka harus semuanya. Semua atlet Peparnas Jabar harus jadi juara umum," katanya saat melepas kontingen Peparnas Jabar di Gedung Sate, Senin (10/10/2016).

Dus, makin tegaslah kesetaraan di semua aspek bagi para pahlawan olahraga tersebut. Malahan, ajang semacam ini harus makin meneguhkan hilangnya diskriminasi kepada saudara kita yang difabel.

Menurut Menpora Imam Nahrawi, ajang semacam APG dan Peparnas adalah momen akbar dalam mengakhiri diskriminasi terhadap difabel. 

Prinsip itu pula yang membuat pemerintah memberikan perlakuan setara kepada peraih medali Paralimpiade (Ni Nengah Widiasih) dengan peraih medali Olimpiade 2016 Rio. Ni Nengah selaih peroleh bonus Rp1 miliar yang sama dengan peraih medali perunggu PON, juga mendapat tunjangan hari tua yang setara. Kesetaraan di tanah air ini, tentu menjadi salah satu cita-cita lama bagi insan/aktivis olahraga yang tergabung di IPC (International Paralympic Comitte) maupun NPC (National Paralympic Comitte of Indonesia).

Spirit kesamaan melampaui batas menuju juara paripurna ini memang sudah seharusnya. Setidaknya di cabang atletik bergengsi yakni 100 meter dunia, catatan waktu juara Olimpiade 2016 Usain Bolt (Jamaika) adalah 9,81 detik. Atlit paralimpik tunanetra, David Brown (Amerika Serikat) mencatat 11,03 detik atau selisih 1 detik saja. Kepada para pahlawan atlet Paralimpik Indonesia, wilujeng sumping di Tanah Legenda! (Detiknews)

About RadioGsp Pamanukan

Terimakasih telah berkunjung di GSP Radio.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama