» » Evaluasi Kinerja Karyawan pada Akhir Tahun, Penting atau Basi?

Menerima kritik dari atasan terhadap hasil kerja tidak selalu menyenangkan, tetapi memperoleh evaluasi kinerja yang buruk di akhir tahun bisa meruntuhkan semangat kerja.
 
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Adobe terhadap 1.500 karyawan dan manajer di Amerika Serikat (AS) mengenai evaluasi kinerja di akhir tahun, sebanyak 22 persen karyawan pernah menangis di toilet kantor karena hasil yang buruk.

Kemudian, lebih kurang 20 persen pernah mengundurkan diri karena mendapatkan evaluasi kinerja yang tidak adil dan membuat stres.

Survei juga menyebutkan bahwa tugas menilai kinerja anak buah dianggap menyebalkan dan tidak produktif.

Sebanyak 60 persen mengaku bahwa evaluasi kinerja untuk karyawan tetap di akhir tahun dianggap sudah kuno dan tidak memberikan pengaruh positif.

Selain itu, kebanyakan manajer juga merasa beban menyampaikan penilaian yang buruk pada anak buah membuat hubungan kerja menjadi kurang kondusif.

“Penemuan ini memperlihatkan bahwa menilai dan mengevaluasi kinerja hanya membuat semangat karyawan turun dan buang-buang waktu,” ujar Donna Morris, Executive Vice President of Customer and Employee Experience, Adobe.

Adobe telah menghentikan evaluasi kinerja akhir tahun semenjak tahun 2012 silam.
Morris mengatakan bahwa hasilnya kinerja karyawan meningkat, keluar masuk karyawan menurun drastis, dan hubungan antarkaryawan semakin dekat.

Survei juga mengungkapkan bahwa karyawan pria lebih kuat dan tabah dalam menerima penilaian kinerja yang buruk daripada karyawan wanita.

Terakhir, survei membeberkan kondisi yang sering terjadi pada suatu perusahaan setelah merilis evaluasi kinerja akhir tahun pada karyawan.

Ternyata, 43 persen karyawan memilih pindah kerja ke perusahaan kompetitor, 25 persen menangis di toilet, dan 28 persen mengundurkan diri meski belum memperoleh pekerjaan baru. (Global News, )

About RadioGsp Pamanukan

Terimakasih telah berkunjung di GSP Radio.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama