» » » Ditemukan Bejana Terbesar se-Nusantara, Bukti Sejarah Menakjubkan Subang

Bewara GSP - Seorang ahli prasejarah bernama Drs. Lutfi Yondri, M. Hum mengungkapkan fakta yang mengejutkan tentang sejarah Kabupaten Subang. Dia menyebut ada sekitar 200 lebih cagar budaya yang berada di Kabupaten Subang. Dengan jumlah yang cukup banyak tersebut membuat Subang menjadi salah satu bagian dari mata rantai lintas sejarah nusantara.
 
Menurut Lutfi, cagar budaya di Kabupaten Subang jumlahnya sangat banyak, namun belum ditetapkan sebagai warisan budaya milik Kabupaten Subang.

“Cagar budaya di Kabupaten Subang sangat beragam, sebab Subang salah satu bagian dari mata rantai lintas sejarah nusantara,” kata Lutfi Yondri usai menggelar rapat di Wisma Karya, Kamis (23/2/2017).

Dalam melakukan penetapan beberpa cagar budaya ini, Lutfi bersama tim saat ini akan mendatangi beberapa tempat yang terdapat cagar budaya. Untuk kemudian mereka melakukan pendataan.

Beberpa tempat di wilayah Subang yang memiliki potensi cagar budaya tersebut, dari tahun dari mulai tahun 2015 sudah mulai didata. Sekarang pihaknya akan melakukan peninjauan kembali terhadap benda cagar budaya itu.

“Ada banyak cagar kebudayaan yang sudah diajukan ke kita. Selanjutnya kita akan melakukan pengecekan, setelah itu kemudian kita akan merekomendasikan cagar budaya ini untuk segera  ditetapkan menjadi warisan budaya milik Kabupaten Subang,” katanya.

Menurut Lutfi, cagar budaya atau warisan budaya ini dibagi kedalam beberapa klasifikasi. Diantaranya bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya.

“Keberadaan cagar budaya harus dilestarikan karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan dan agama. Pelestarian kebudayaan tentunya harus melalui proses penetapan,” katanya.

Staf Seksi Cagar Budaya dan Musim UPTD Museum Wisama Karya Khadar Hendarsyah, mengatakan pendataan benda yang masuk dalam cagar budaya sudah dilakukan sejak 2015. Hasilnya ratusan cagar budaya telah ditemukan di sejumlah daerah di wilayah Subang.

“Betul, terdapat sekitar 200 lebih cagar budaya di Subang. Ini tentunya harus segera ditetapkan sebagai warisan budaya,” kata Khadar.

Program penetapan beberapa cagar budaya yang dimulai hari ini merupakan langkah yang ditempuh agar cagar budaya di Kabupaten Subang bisa dilestarikan dan menjadi warisan budaya, sehingga masyarakat bisa mengetahui bahwa Subang memiliki banyak cagar budaya.

“Seperti apa kata pak Lutfi, Subang itu salah satu bagian dari mata rantai lintas sejarah nusantara. Jadi sangat luar bisa sekali. Untuk itu proses penetapan cagar budaya ini harus segera dilakukan,” katanya.

Dalam rapat koordinasi penetapan beberapa cagar budaya tingkat Kabupaten Subang ini dihadiri oleh beberapa staf museum dan bagian Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang.

Kegiatan pendataan ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang persebaran tinggalan budaya beserta situsnya dengan tujuan kegiatan tersedianya data tentang potensi tinggalan budaya dalam bentuk tertulis.

Bejana perunggu
Salah satu cagar budaya yang paling fenomenal ditemukan di Subang adalah bejana Perunggu.

Bejana perunggu adalah benda yang terbuat dari perunggu berfungsi sebagai wadah atau tempat menyimpan makanan. Bentuknya bulat panjang dan menyerupai gitar tanpa tangkai. Benda peninggalan zaman dari kebudayaan ini ditemukan di Krinci dan Madura.

Selain didua tempat itu, ternyata di wilayah Subang Jawa Barat juga diketemukan bejana perunggu tinggalan masa prasejarah. Bejana yang ditemukan di Subang bahkan ‘diklaim’ sebagai bejana terbesar jika dibandingkan dengan yang ditemukan di Kerinci dan Madura.

Bejana Perunggu di Subang ditemukan di Kampung Tangkil, Desa Cinta Mekar, Kecamatan Serang Panjang, Subang tahun 2007 lalu oleh seorang warga kampung Tangkil bernama Maman di kedalaman 50 cm tersebut memiliki ukuran tinggi 90 cm lebar 60 cm. Artefak ini merupakan yang terbesar dari tiga buah Bejana Perunggu yang pernah ditemukan di Indonesia.

Seperti diketahui Bejana Perunggu atau kadang disebut juga sebagai tempayang perunggu di wilayah Asia Tenggara mulai dikenal kira-kira 3.000 Sebelum Masehi yang sering dikaitkan dengan periode atau mada perundagian. (AR-WK)

About RadioGsp Pamanukan

Terimakasih telah berkunjung di GSP Radio.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama