» » Melihat Perkebunan Buah Naga di Cijambe

Belum begitu banyak yang tahu, Desa Cirangkong Kecamatan Cijambe terdapat perkebunan buah naga. Ada salah satu perkebunan buah naga yang luasnya mencapai 5,7 hektare, tepatnya di kawasan pegunungan yang tak jauh dari perumahan warga.

Bagi warga setempat, keberadaan buah naga menjadi kebanggaan tersendiri. Sebab, dengan adanya perkebunan buah naga yang dikelola oleh Yayasan Dompet Dhuafa, mereka mulai membiasakan menanam buah itu secara mandiri di pekarangan rumahnya masing-masing.

Budidaya tanaman buah naga itu dimulai sejak pertengahan 2014 silam. Dengan dibantu warga setempat, penanaman buah naga dari tahun ke tahun cukup menjanjikan.
 
“Di tahun kedua, produksi panen buah naga di sini mencapai 5 ton. Ada peningkatan dari tahun sebelumnya,” kata Koordinator Program Indonesia Berdaya dari Yayasan Dompet Dhuafa, Agung Karisma kepada Pasundan Ekspres, Rabu (1/2).

Buah naga yang ditanam di lahan tersebut yaitu varietas Sabila merah dan putih yang berasal dari perkebunan buah naga Yogyakarta.

Di atas lahan 5,7 hektare itu, terdapat 2.000 tiang tanaman buah naga. Satu tiang berpotensi menghasikan 5 kg buah naga atau sebanyak 10 buah dalam satu bulan.

Untuk menghasilkan kualitas rasa yang manis dan buah yang besar diperlukan perlakukan khusus pada tanaman yang satu ini. Dari mulai pemupukan, pemberian nutrisi, pengairan, hingga pencahayaan harus betul-betul diperhatikan.

Menurut Agung, ada tiga faktor yang mempengaruhi terhadap kualitas rasa pada buah naga. Pertama sumber bibit buah naga. Kedua cara budidaya. Dan ketiga faktor alam.

“Di sini gunakan pupuk organik. Itu ke rasa cukup mempengaruhi,” ujarnya.

Dia mengatakan tanaman buah naga varietas Sabila Merah dan Putih ini bisa ditanam di ketinggian 0-1000 mdpl.

“Idealnya itu diketinggian 400-500 mdpl. Nah kebun ini yaitu berada di ketinggian 400 mdpl, jadi faktor alam sangat mendukung,” jelasnya.

Masih kata Agung, buah naga yang ditanam di sini akan sangat menjanjikan jika sudah memasuki tahun ke lima. Potensi produksi bisa mencapai 20-30 ton per tahunnya. Tentu diimbangi dengan luas lahan yang rencananya akan terus diperluas.

Sementara itu, masa panen buah naga paling produktif yaitu di bulan Desember hingga April. “Bulan lainnya bisa panen hanya tak sebanyak bulan-bulan itu,” ujarnya.

Kebun buah naga itu tak hanya sebatas tempat budidaya saja melainkan menjadi tempat wisata. Pengunjung bisa memetik dan menikmati langsung buah naga di perkebunan.

“Kami sengaja design seperti itu untuk memberikan edukasi juga kepada masyarakat. Kami bangun juga tempat penginapan,” ungkapnya.

Salah seorang warga setempat yang bekerja mengelola kebun tersebut, Ade Suherlan merasa terbantu secara perekonomian.

“Masyarakat setempat merasakan dampaknya dari keberadaan kebun buah naga ini,” katanya.

Apalagi saat ini masyarakat sudah mulai berinisiatif menanam sendiri buah naga di pekarangan rumahnya. “Masyarakat sudah tahu ilmunya bagaimana menanam buah naga, jadi pada nanam sendiri di pekarangan rumahnya,” kata Edi Hardian tokoh masyarakat setempat.
Dalam kesempatan yang sama, Camat Cijambe Udin Jazudin akan berupaya untuk memaksimalkan potensi yang ada di daerahnya. Keberadaan kebun buah naga, kata udin harus memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.


Selain itu juga, ia mendorong agar masyarakat peduli pada daerah tempat tinggalnya. Memanfaatkan potensi yang ada untuk kesejahteraan masyarakat. Salah satunya didorong dalam sektor pariwisata.

“Sektor pariwisata akan kami maksimalkan,” kata Udin.

About RadioGsp Pamanukan

Terimakasih telah berkunjung di GSP Radio.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama