» » » Ribuan Warga Garut Antusias Saksikan Genjring Bonyok Khas Subang

Ribuan Warga Garut Antusias saksikan kontingen Subang dalam acara helaran dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-204 Kabupaten Garut, Rabu (22/2/2017) dengan tema Mapag Abad Kadigjayaan.  

Dalam kesempatan tersebut Kabupaten Subang mempersembahkan helaran Genjring Bonyok yang merupakan kesenian khas Subang. Genjring Bonyok tersebut dipadukan dengan tarian yang dibawakan oleh puluhan penari dan tarian titinggi dengan kostum warna warni, sehingga tampak meriah.
 
Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang memang tengah berupaya kembali menghidupkan kesenian khas Kabupaten Subang yang saat ini eksistensinya meredup tergerus kesenian lainnya. Genjring Bonyok adalah salah satu kesenian yang diperkenalkan kembali kepada khalayak, termasuk masyarakat luar Subang.

Genjring bonyok adalah jenis kesenian yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Subang. Alat musik utama yang dipergunakan adalah bedug dan genjring. Jenis kesenian ini mulai lahir dan berkembang di Kampung Bonyok, Desa Pangsor, Kecamatan Pagaden. Kesenian ini muncul karena terinspirasi atau perkembangan dari kesenian genjring Sholawat, Genjring Rudat dan adem ayem di pantura Indramayu. Seniman yang berperanan penting dalam mendirikan dan mengembangkan genjring bonyok adalah Talam dan Sutarja.

Awalnya di Dusun Bunut, Desa Pangsor, Kecamatan Pagaden terdapat sebuah kelompok kesenian genjring sholawat yang bernama Sinar Harapan. Pada awal berdirinya kelompok kesenian ini dipimpin oleh Sajem (1960-1968). Kemudian mulai tahun 1968-1975 kepemimpinan Sinar Harapan diserahkan kepada Talam. Pada masa kepemimpinan Talam, yaitu sekitar tahun 1969, kelompok kesenian genjring ini mulai sangat jarang digunakan dalam hajatan-hajatan yang diadakan warga masyarakat. Hingga kemudian kelompok tersebut tidak pernah lagi mengadakan pertunjukkan.

Bergerak dari kondisi yang dialami kelompok Sinar Harapan, Sutarja sebagai salah satu anggotanya membuat inisiatif untuk menggunakan instrumen genjring dan bedug dalam suatu bentuk kesenian yang berbeda dari bentuk kesenian sebelumnya (genjring sholawat). Berbekal dengan instrumen musik yang dimiliki Sinar Harapan, Sutarja yang memperoleh dukungan dari Sajem dan Talam, mulai menciptakan bentuk kesenian genjring yang relatif baru yang kemudian dikenal dengan genjring bonyok.

Pertunjukan pertama kelompok Sinar Harapan dengan bentuk kesenian genjring yang relatif baru ini, dilakukan pada acara khitanan keluarga Rusmin, di Desa Sumur Gintung (sebelah Selatan Cidadap) pada tahun 1969. Sesuai dengan pola berkesenian masyarakat setempat pada masa itu, pertunjukan kesenian Genjring Sinar Harapan tersebut ditampilkan bersama-sama dengan kesenian gembyung, pencak silat, sisingaan, dan reog. Pada tahun 1973, kelompok kesenian Sinar Harapan tersebut pindah ke Desa Cidadap.

Namun sekitar akhir tahun 90-an kesenian ini mulai berganti dengan kesenian lainnya, yaitu tardug, yang merupakan pengembangan dari kesenian Genjring Bonyok dengan penambahan instrumen lainnya seperti gitar.

About RadioGsp Pamanukan

Terimakasih telah berkunjung di GSP Radio.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama