» » Subang Terus Berbenah, Perlu Spirit Inovasi dan Visi Misi Penuh Optimisme

Bewara GSP - Peringatan Hari Jadi Kabupaten Subang ke-69 harus jadi momentum untuk meningkatkan kualitas pelayanan terhadap masyarakat.
 
Secara fisik, sejumlah pembangunan yang dilakukan oleh Pemkab Subang telah nampak memasuki usia ke-69 ini. Salah satunya yaitu penataan kota yang sudah mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Lapangan alun-alun Kota Subang saat ini menjadi tempat yang nyaman untuk digunakan olahraga lari. Taman yang tak kalah menarik untuk bersantai yaitu yang berada di perempatan lampu merah Soklat.

Juga selain itu, taman yang berada di Ranggawulung yang bertuliskan “Subang” semakin menarik saja untuk dikunjungi. Atau hanya sekedar foto-foto. Termasuk Taman Teritoal yang kini mulai ramai dikunjungi.

Kasi Tata Kota, Pertamanan dan Pemakaman Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Subang, Oke Rosgana S.Sn mengatakan, penataan kota menjadi menarik untuk dikunjungi merupakan salah satu bagian peningkatan pelayanan terhadap masyarakat.

Semakin banyaknya ruang terbuka hijau, kata Oke, akan membuat masyarakat merasa memiliki terhadap daerahnya.

“Saat masyarakatnya dinyamankan oleh pemerintah, itu akan berefek positif juga terhadap kota itu sendiri,” katanya  Selasa (4/4).

Untuk menyambut hari jadi Kabupaten Subang, kantor-kantor dinas mulai ditata semenarik mungkin. Mulai dari taman hingga hiasan lampu berwarnai-warnai di setiap kantor dinas sengaja didesign agar memeriahkan hari jadi.

Oke mengatakan, penataan kota bukan hanya untuk Adipura saja melainkan sengaja dibuat untuk masyarakat.

Termasuk hiasan lampu di setiap dinas nampaknya harus tetap seperti itu. Malam hari terlihat nampak indah dan mencuri perhatian banyak orang.

Tempat terpisah, sejumlah kalangan mulai dari akademisi hingga masyarakat ikut berbicara di peringatan hari jadi Kabupaten Subang ini.

Akademisi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sutaatmadja (Stiesa) Gugyh Susandy, SE, M.Si menyoroti dari berbagai aspek. Peneliti Subang Strategic Information Center (SSIC) itu membeberkan hasil survei kepuasaan publik pada Januari 2017. Survei dilakukan pada 220 orang yang tersebar di 18 kecamatan.

Hasil survei menyebutkan, sebanyak 34 responden memberikan nilai 7 atas kinerja Pemkab Subang. Sementara sebanyak 30 persen responden juga memberikan nilai 7 bagi kinerja pemerintah kecamatan. Hal berbeda terjadi pada penilaian kinerja pemerintahan. Sebanyak 24 persen responden memberikan nilai 7 bagi pemerintahan tingkat bawah tersebut.

Sementara pada pembangunan infrastruktur, sebanyak 30 persen responden memberikan nilai 7. Pada bidang ekonomi, sebanyak 28 persen memberikan nilai 6. Hal yang sama juga terjadi pada penilaian pelayanan publik. Sebanyak 29 persen responden memberikan nilai 6.

Sementara pada bidang pendidikan, sebanyak 25 persen responden memberikan nilai 7. Pada kinerja bidang kesehatan, sebanyak 25 persen memberikan nilai 6.

“Jadi kesimpulannya masih dinilai 6 dan 7,” kata Gugyh.

Menurutnya, Pemkab Subang masih memiliki banyak PR. Jika ingin menjadi kabupaten unggulan di Jawa Barat, bahkan nasional, harus mendapatkan nilai 9 dan 10.

“Untuk melakukan lompatan itu perlu rencana dan kerja tim yang prima. Jangan abaikan nurani dan kajian akademis dalam setiap policy, karena setiap kesalahan yang terjadi akan berdampak panjang ke masa depan Subang, dan tentu waktu tidak dapat diulangi lagi,” bebernya.

Akademisi Universitas Subang, Dr Iwan Henri Kusnadi juga angkat bicara. Peringatan hari jadi, kata dia, perlu disikapi secara bijak dengan spirit inovasi. Artinya perlu menatap ke depan dengan visi dan misi yang penuh optimisme.

“Permasalahan terpenting yang harus dibangun saat ini adalah kepercayaan publik terhadap semua elit di Subang,” ujarnya.

Ia menambahkan, amtosfir masyarakat Subang perlu dibangun melalui pendekatan humanistik secara utuh melalui ketauladan elit dari berbagai tokoh dan komponen Subang.

“Milangkala Subang ke-69 sebagai agenda dalam sejarah perjalanan Subang. Sangat penting sebagai momentum peringatan tentang berbagai dimensi pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan,” jelasnya.

Mengenai aspek pendidikan, Dewan Pendidikan (DP) Kabupaten Subang mempertanyakan sejauhmana perhatian Pemkab Subang terhadap pendidikan.

Data dari BPS membuktikan, IPM di Subang baru menunjukan angka 66,52 persen. Di daerah Purwasuka, Subang urutan terendah untuk IPM pada tahun 2016. Purwakarta sebesar 67,84 persen dan Karawang 67,66 persen.

“Sementara rata-rata lama sekolah di kita baru 6,45 tahun. Atau setara kelas VII SMP semester 1,” kata Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Subang, Drs Abdul Kodir MPd I.
Ia juga menilai dukungan anggaran untuk pendidikan di Subang masih minim. Berdasarkan data dari Kemendikbud, anggaran pendidikan dari APBD Subang di luar transfer dari pusat pada tahun 2016 hanya 0,7 persen atau sekitar 13 miliar.

“Dari tahun 2015 ada penurunan sangat drastis, mengapa bisa seperti itu? Tahun 2015 itu di angka 16,7 persen,” ujarnya belum lama ini.

Dia menegaskan, apa yang disampaikan oleh Dewan Pendidikan berupa masukan semata-mata untuk membangun pendidikan. “Memang fungsi kami kan memberikan masukan, tapi berdasarkan data yang akurat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Subang, Ir Beni Rudiono mengajak masyarakat untuk merenung apa yang telah diperbuat demi kemajuan Kabupaten Subang.

Beni yang senang dengan sejarah itu menuturkan, alangkah baiknya Desa Cimenteng, Kecamatan Cijambe menjadi salah satu tempat yang diangkat dalam peringatan hari jadi kali ini.

“Sebetulnya lebih mengena di situ, 5 April 1948 hari jadi kelahiran Subang,” katanya.
Dia mengatakan, masyarakat Subang harus bangga tinggal di Kabupaten Subang. Kabupaten yang akan kaya akan sumber daya alamnya memiliki pegunungan dan pantai.

Selain itu juga, kebanggaan masyarakat Subang yang tak kalah pentingnya kata Beni ialah, di Kalijati terjadi peristiwa besar pada 8 Maret 1942. Di mana ketika itu, Belanda menyerah tanpa syarat terhadap Jepang.

Kata Beni, melalui peristiwa itu nama Kalijati, dalam hal ini Subang sudah terdengar ketika masa perjuangan kemerdekaan. Catatan sejarah itu jangan sampai dilupakan oleh masyarakat Subang.

Mengenai hari jadi Subang, pada intinya kata Beni masyarakat harus merasakan kebahagian.
“Harapannya semua masyarakat merasakan kebahagian di peringatan hari jadi Subang ini,” ujarnya.

Warga Subang, Nendi mengaku merasakan kebahagian dengan HUT Kabupaten Subang ke-69 ini. Untuk turut memeriahkannya, warga Ciater itu sengaja datang untuk melihat pawai lomba mobil hias Senin (3/4) malam.

Menurutnya, pawai malam hari lebih menarik dibandingkan dengan siang hari. “Kalau malam terlihat lebih menarik dan ramai. Meriahnya terlihat,” katanya.
Selaku warga Subang, ia berharap momen ulang tahun ini menjadi semangat baru untuk Subang lebih maju.

Sementara dalam acara Riung Mungpulung, Selasa (4/4), Plt Bupati Subang, Hj Imas Aryumningsih SE mengatakan, menjelang hari jadi Kabupaten Subang, telah dilaksanakan berbagai kegitan, mulai sunatan masal, tabligh akbar, lomba taman, hingga lomba menangkap ikan tanpa alat yang meraih rekor Muri.

“Kegitan hari ini (kemarin) kita melakukan ziarah ke Taman Makam Pahlawan Cidongkol, Subang. Kita sebagai penerus bangsa harus menghormati jasa para pahlawan, karena jasa mereka, Indonesai merdeka dan juga berdirinya Kabupaten Subang yang sudah ke-69,” ungkap Imas.

Di kesempatan tersebut, Imas juga meminta maaf masih banyaknya kekurangan dalam membangun Subang.

“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada warga yang telah mendukung pembangunan Subang,” tandasnya.

Hasil Survei SSIC
Kinerja Pemkab Subang
34 persen berikan nilai 7
Kinerja kecamatan
30 persen berikan nilai 7
Kinerja pemerintahan desa
24 persen berikan nilai 7
Pembangunan infrastruktur
30 persen berikan nilai 7
Bidang ekonomi
28 persen berikan nilai 6
Layanan publik
29 persen berikan nilai 6
Bidang pendidikan
25 persen berikan nilai 7
Bidang kesehatan
25 persen berikan nilai 6
*) keterangan: N=220 orang di 18 kecamatan
(Pe)

About RadioGsp Pamanukan

Terimakasih telah berkunjung di GSP Radio.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama