» » Pendirian Sekolah Negeri Menuai Protes

Bewara GSP - Pada saat pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) berlangsung, dua SMA negeri di Subang berdiri secara tiba-tiba. Yakni SMAN 4 Subang yang merupakan filial (kelas jauh) SMAN 2 Subang dan SMAN 2 Pagaden filial dari SMAN 1 Pagaden.

Tahun ini, dua sekolah filial tersebut dikabarkan telah menerima calon peserta didik yang tidak diterima di SMAN 2 Subang dan SMAN 1 Pagaden, serta sekolah negeri lain di sekitarnya.
 
Munculnya dua sekolah filial secara tiba-tiba itu membuat kaget sejumlah sekolah swasta. Terutama sekolah swasta yang saat ini minim siswa. Sekolah swasta yang semula mendapat harapan karena kemungkinan besar ada limpahan siswa dari sekolah negeri yang tak diterima, sekarang peluang mendapatkan siswa minim.

Salah satu masyarakat yang mendorong berdirinya dua sekolah negeri tersebut, Drs Ahmad Yunus berpendapat, langkah yang diambil untuk mendirikan SMAN 4 Subang dan SMAN 2 Pagaden sudah tepat. Hal itu merupakan solusi dari banyaknya pendaftar yang masuk sekolah negeri dan tidak semua bisa diterima di sekolah negeri.

Dia menjelaskan, adanya Permendikbud No 17 tahun 2017 tentang PPDB yang membatasi 36 orang per kelas, menjadi dasar pendirian dua sekolah negeri tersebut. Termasuk adanya pembatasan jumlah kelas yang maksimal 12 kelas. Yang biasanya sekolah negeri bisa menerima hingga 40 orang per kelas, sekarang menjadi 36 orang per kelas.

Sehingga dengan begitu, bagi pendaftar yang tidak terima di sekolah negeri bisa berpeluang sekolah di sekolah negeri, yakni SMAN 4 Subang dan SMAN 2 Pagaden.

Ia berpandangan, para pendaftar yang tidak diterima di sekolah negeri tidak perlu khawatir tidak melanjutkan sekolah. Ia pun menjawab tuduhan bahwa pendirian dua sekolah negeri itu akan berdampak pada PPDB sekolah swasta.

Lebih lanjut, Yunus mengatakan, trend masyarakat Subang menyekolahkan anaknya tak hanya sebatas pada jenjang SMP saja, melainkan pada jenjang SMA/SMK. Oleh karena itu, pelayanan pendidikan harus maksimal diberikan kepada masyarakat.

Saat ditanya mengenai perizinan pendirian dua sekolah tersebut, ia menjawab sudah selesai dilakukan.

Sementara itu Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kabupaten Subang, H Ahmad Fahmi SPd MMPd, membenarkan adanya dua sekolah SMAN 4 Subang filial SMAN 2 Subang dan SMAN 2 Pagaden filial SMAN 1 Pagaden.

Sebelum memasukan pendaftar yang tidak diterima di sekolah negeri, baik SMAN 2 Subang dan SMAN 1 Pagaden ke SMAN 4 Subang dan SMAN 2 Pagaden, kata dia perlu ada persetujuan terlebih dahulu dari pihak pendaftar.

Menurut salah seorang panitia PPDB SMAN 2 Subang, hingga saat ini belum ada penerimaan PPDB untuk SMAN 4 Subang. Menurutnya, perlu ada pembicaraan dulu dengan orang tua siswa pendaftar yang tidak diterima di SMAN 2 Subang. Rencananya, dalam waktu dekat akan dibicarakan dengan orang tua siswa.

Sementara itu, Kepala SMA Muhammadiyah Subang, Suhaerudin SAg mengaku kaget dengan berdirinya tiba-tiba dua sekolah tersebut pada saat pelaksanaan PPDB. Sehingga harapan mendapatkan siswa limpahan dari sekolah negeri pun sirna.

Ia pun mengaku menentang pendirian dua sekolah tersebut. Ia mempertanyakan dasar hukum dan hasil kajiannya. Ia pun meminta keadilan dari pemerintah, agar sekolah swasta pun mendapat perhatian.

Sebagai upaya atas menolaknya dua sekolah tersebut, ia pun telah menjalin komunikasi dengan Badan Musyawarah Sekolah Swasta (BMPS) Jawa Barat.

“Yang menentukan lanjut atau tidaknya nanti dua sekolah itu adalah Kadisdik Jabar. Semoga saja ada solusi yang bisa berpihak pada swasta,” ujarnya.(pe)

About RadioGsp Pamanukan

Terimakasih telah berkunjung di GSP Radio.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama