» » Perajin Ikan Asin Merugi

Bewara GSP- Perajin ikan asin di Kecamatan Pagaden harus menelan pil pahit karena menderita kerugian. Hal ini merupakan imbas dari kenaikan harga garam yang cukup tinggi sehingga tak bisa menutupi biaya produksi ikan asin.
Perajin ikan asin asal Pagaden, Sumirah, 41, mengatakan dirinya biasa memproduksi 150 buah ikan asin setiap harinya. Namun saat ini dirinya mengaku sudah dua minggu tak berproduksi. Ia mengatakan, terakhir kali membuat ikan asin, dirinya hanya mampu membuat 50 buah ikan asin.
“Paling terakhir produksi 50 buah ikan asin. Itu juga karena ada yang memesan. Harga garam yang tinggi sangat menyulitkan kami sebagai perajin dengan modal pas-pasan. Kalau ikan gak ada masalah, tapi kami kan jualannya ikan asin jadi ikannya ya mesti asin,” keluhnya.
Sumirah juga menjelaskan, harga garam yang naik membuat biaya prouksi membengkak. Sehingga dirinya selalu merugi. Terlebih dirinya hanya pelaku UMKM yang tak memiliki banyak modal untuk menutupi kerugian yang dideritanya.
“ Saya harap pemerintah turun tangan agar harga garam kembali normal. Masa harga garam yang awalnya Rp2000 sekarang jadi Rp8500 per bungkusnya?tentu ini menyulitkan perajin ikan asin seperti saya!”tegasnya.
Selain Sumirah, salah satu pedagang sembako di Pasar Pujasera, Taryo,36, mengatakan saat ini pasokan telur asin juga terhambat. Jika ada, harganya sudah melonjak Rp500 per butir.
“Sekarang pemasok telur asin jual ke ke kita Rp1.800.Kalau kita jual Rp1.900 ke pembeli mereka juga gak mau beli. Ini buat pedagang bingung menjualnya bagaimana?” ujarnya pesimis. (pe)

About RadioGsp Pamanukan

Terimakasih telah berkunjung di GSP Radio.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama