» » Guru Dibuat Kaku oleh Sistem Pendidikan

Bewara GSP - Guru dituntut untuk meningkatkan kompetensinya. Jangan bilang guru memiliki kompetensi yang tinggi, tapi tidak dibuktikan dengan prestasi anak didiknya.
Ukuran keberhasilan guru dalam mendidik, salah satunya dibuktikan dengan banyaknya anak didik yang berprestasi. Sekretaris Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Dr E Nurzaman AM MSi MM mengatakan, guru yang berprestasi yaitu adanya siswa yang beprestasi.

“Oleh sebab itu guru wajib meningkatkan kompetensi,” kata Dr E Nurzaman dalam seminar pendidikan yang diselenggarakan Ikatan Guru Indonesia (IGI) Jawa Barat dan Subang, Sabtu (3/3) di SMAN 1 Jalancagak.

Dia meminta agar guru dalam melaksanakan tugasnya bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja. Melainkan harus ada upaya-upaya peningkatan kompetensi. Kata Nurzaman, ukuran keberhasilan guru bukan seberapa lama guru mengajar, melainkan seberapa lama siswa belajar. Artinya guru harus mampu mendorong siswa untuk terus belajar, sekalipun tanpa ada guru. “Proses belajar bisa terjadi walaupun tanpa guru, tapi kenapa guru diperlukan? Untuk memfasilitasi agar siswa belajar secara sistematis,” ungkapnya.
Rektor Universitas Subang, Dr Ir Drs A Moeslihat Komara MSi mengatakan, guru semestinya diodalakan oleh siswanya. Guru harus menjadi inspirasi bagi siswanya.  Saat ini, kata dia, tak banyak yang menjadi inspirasi bagi siswanya. Menurut penelitian Csikszentmihalyi dan McComark pada 2004, hanya 58 persen siswa dan remaja yang mengidolakan guru. Sementara 88 persen mengidolakan teman sebaya dan 90 persen orang tua.
Dia mengatakan, guru merupakan salah satu pilar utama dalam pendidikan. Berbagai studi menunjukan lebih dari 50 persen hasil belajat siswa dipengaruhi oleh guru. “Agar pendidikan kita bermutu, haruslah diupayakan agar setiap sekolah memiliki guru yang memadai dan berkualitas,” ujarnya.

Ketua IGI Jawa Barat, Cucu Sukmana ST MM menyebut, guru haruslah diberikan kebebasan dalam mendidik siswanya. Ia melihat, guru dibuat kaku dalam mendidik siswa oleh sistem pendidikan yang ada. Perubahan kurikulum yang mengharuskan guru untuk mengikutinya, menunjukan campur tangan terhadap guru sehingga guru menjadi kaku. Padahal, guru harus diberikan kepercayaan yang utuh dalam mendidik siswanya. Guru yang mendapat kebebasan dalam mengajar, akan juga menghasilkan siswa yang berprestasi.

“Pendidikan kita tidak kreatif, tidak berdaya. Kondisi saat ini, metode dalam mengajar pun diintervensi. Maka ini yang harus dirubah. Kita harus memberdayakan potensi-potensi guru, percayakan saja sepenuhnya pada guru,” jelasnya.

Dia mengatakan, potensi-potensi guru yang ada biarlah terus berkembang dengan caranya masing-masing dalam mendidik.  “Kalau guru diberi kesempatan mengeksplorasi itu guru akan senang. Kalau ini terjadi dan terbangun, saya percaya kalau kualitas guru baik secara otomatis kualitas pendidikan pun akan baik,” jelasnya. (pe)

About RadioGsp Pamanukan

Terimakasih telah berkunjung di GSP Radio.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama