» » Kekerasan Seksual Sering Terjadi di Sekolah

Bewara GSP - Sungguh miris, kasus kekerasan seksual terhadap anak beberapa kali terjadi di lingkungan sekolah. Hingga kini Dinas Pendidikan masih diam saja. Belum melakukan langkah antisipasi agar kasus tersebut tidak terjadi.

Namun sejumlah pihak berpandangan, dalam kasus ini tidak bisa serta merta pihak sekolah dan Dinas Pendidikan disalahkan. Namun ada juga yang menyebut, kasus ini marak terjadi akibat minimnya pengawasan dari kedua lembaga tersebut.
Di Subang, belum lama ini terungkap terjadi kasus kekerasan seksual pada empat siswi di salah satu sekolah di Subang oleh seorang oknum guru olahraga. Bahkan pada tahun 2017, terjadi pula kasus kekerasan seksual di lingkungan sekolah.
Anggota DPRD Subang, Nurul Mu’min menyayangkan kejadian tersebut terjadi di lingkungan sekolah. Ia meminta agar kasus serupa tidak terjadi lagi di Subang.
“Mengutuk keras pelaku, harus dihukum sesuai peraturan perundang-undangan yang ada. Sekolah harus revolusi akhlak mengembalikan ke khitoh sesungguhnya mencerdaskan kehidupan bangsa secara konsisten,” ungkap Sekretaris Komisi IV DPRD Subang itu, kemarin (5/3).

Dia mengatakan, dari segi aturan tata tertib di sekolah sudah bagus. Hanya tinggal dilakukan pembinaan terhadap guru oleh pihak sekolah dan Dinas Pendidikan. Tujuannya agar tidak terjadi tindakan tidak terpuji oleh guru di lingkungan sekolah.
“Itu lebih kepada tindakan personal, sehingga melakukan tindakan itu,” ujarnya.

Sementara itu Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Subang, Drs Abdul Kodir MPd I menyayangkan kejadian tersebut. Dia mengaku prihatin atas kejadian tersebut.
“Ini menjadi warning bagi sekolah untuk rekrutmen guru,” ujarnya.

Dia mengatakan, harus ada pemantauan dari orang tua seperti halnya ketika kejadian ekstrakurikuler. Selain itu juga harus melakukan rekruitmen guru, terutama guru olahraga yang tepat.
“Kepala sekolah juga harus aktif melakukan pengawasan terhadap guru-guru,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Sekretaris Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Dr E Nurzaman AM MSi MM, ketika guru melakukan tindakan di luar norma, maka guru itu dianggap salah.
“Mestinya guru menjadi teladan, ketika guru berbuat salah, dia tidak lepas dari urusan hukum,” ujarnya.

Dia mengatakan, orang tua jangan merasa sudah selesai dalam urusan mendidik ketika anak berada di sekolah. “Justru tanggungjawab mutlak ada di keluarga, karena sekolah itu menjadi salah satu bagian dari sistem pendidikan yang ada,” ujarnya.
Sebelumnya, Ketua KPAD Subang, Juju Juhariah mengatakan, kekerasan terhadap anak seperti fenomena gunung es. Banyak kasus yang sebenarnya tidak terungkap karena sejumlah faktor.
“Salah satunya adalah masyarakat belum mengetahui bagaimana cara melapor, ditambah kekerasan terhadap anak itu dipandang sebagai aib, jadi banyak masyarakat enggan melapor,” ungkapnya.

KPAD Subang pun mengaku miris kasus kekerasan terhadap anak cenderung mengalami peningkatan. Benang merah yang dapat ditarik dari beberapa kasus adalah bahwa peran keluarga dalam memfilter pergaulan anak sangat menentukan. Pilar masyarakat yang belum berfungsi dengan benar, yakni pilar masyarakat dan pemerintah setempat.
“Maraknya situs pornografi dan game online sebagai penyebab naiknya anak sebagai pelaku kekerasan. Begitu juga pemerintah khususnya pemerintah daerah segera menciptakan kota dan desa ramah anak, sekolah ramah anak termasuk tempat usaha ramah anak,” jelasnya.

Pelajar jadi Korban Kekerasan
Juli 2016 : Pemuda cabuli siswa SMP
Juli 2016 : Pelajar SMA dipaksa oral seks
Agustus 2016 : Guru SMA cabuli 11 anak
Mei 2017 : Mahasiswa cabuli siswa SMP
Oktober 2017 : Supir elf cabuli pelajar SMA
Januari 2018` : Ibu tiri siksa anak kelas 1 SD
Februari 2018 : Wakil kepala sekolah cabuli 4 siswa SMP

sumber: pemberitaan pasundan ekspres

About RadioGsp Pamanukan

Terimakasih telah berkunjung di GSP Radio.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama