» » Melihat Kemegahan Kantor Desa Rancasari

Bewara GSP -  Utamakan Layanan Publik dan Pembangunan
Kantor Desa Rancasari kini berdiri megah dan lengkap. Mulai dari bangunan dua lantai, gedung serbaguna yang representatif dan taman yang asri. Setiap ruangan dicat warna pink yang mencolok terang. Belum lagi fasilitas dua ambulan desa yang tersedia dan siap digunakan oleh warga dalam keadaan apapun.
Rancasari merupakan sebuah desa di selatan pusat ekonomi Kecamatan Pamanukan yang bisa dilihat dari dua sisi. Sisi pertama, sepanjang Jalan Raya Ion Martasasmita, Rancasari merupakan kawasan pusat ekonomi Pamanukan. Namun di sisi lalin, sebagian besar lahan di Rancasari digunakan untuk pertanian.
Yang menjadi pertanyaan, berasal dari manakah dana pembangunan kantor Desa Rancasari berasal? Ternyata, mewahnya kantor Desa Rancasari merupakan ide dan konsep pembangunan yang dicanangkan oleh Kepala Desa H Ujang Waridin pada 2006. Dahulu, kantor Desa Rancasari masih sederhana. Bisa dibilang seperti ruang kelas SD dengan model memanjang.
Cartim selaku Sekretaris Desa Rancasari bertutur, alasan pembangunan kantor desanya menjadi dua tingkat adalah karena terbatasnya lahan. Ditambah lagi, lembaga-lembaga desa yang belum memiliki ruangan membuat opsi untuk membuat kantor menjadi dua lantai adalah sebuah pilihan yang rasional
“Tapi proses pembangunan itu panjang dan bertahap,” kata Cartim.

Mengenai desain pembangunan kantor desa, menurut Cartim. adalah H Ujang Waridin sendiri yang mendesainnya. Sumber anggaran yang digunakan bermacam-macam. Dari mulai BKU D/K, Banprov, Bengkok serta hadiah juara Desa Mandiri Gotong Royong (DMGR).
Awal mula pembangunan kantor Desa Rancasari pada 2010. Saat itu gedung kantor desa sebelah selatan mulai dibangun. Pembangunan didasari oleh harapan untuk memiliki gedung 2 lantai. Meskipun minim, saat itu dana yang digunakan bersumber dari BKU D/K. Pekerjaan yang dilakukan saat itu ialah pembongakaran gedung lama untuk membangun gedung baru.
Pembangunan tahap satu hanya mampu menyelesaikan sampai dengan bentuk rangka bangunan. Pada tahun 2011, pembangunan tahap dua mulai dilakukan kembali. Menggunakan anggaran dari BKU D/K tahun 2011, rangka bangunan diselesaikan menjadi sebuah gedung yang lebih representatif dengan tiga ruangan dan sudah dilakukan pengecatan.

Pembangunan kembali dilanjutkan pada 2012. Dana pembangunan kali ini bersumber dari hasil penyewaan bengkok dan bantuan infrastruktur pedesaan dari Ggubernur tahun 2012. Pada tahap ini, mulai dilakukan pembangunan lantai 2 kantor desa dengan kondisi akhir yang sudah melalui pengecatan dan siap digunakan.
Di tahun berikutnya, pembangunan tahap 4 kembali dimulai.

Memakai ADD dan anggaran Juara Desa Mandiri Gotong Royong ke satu dalam bidang pendidikan total hadiah Rp100 juta. Sekitar Rp60 juta untuk pembangunan fisik. Di tahap 4 ini, pembangunan gedung berlantai dua kembali ditambah dengan merekonstruksi gedung lantai 1 dan kontruksi bangunan lantai 2. Tahap ini, meski atap sudah memiliki atap bangunan, penambahan bangunan lantai 2 masih belum selesai secara penuh akibat keterbatasan anggaran.
Pada tahun 2014, pembangunan gedung kembali dilanjutkan hingga selesai. Bahkan, dalam tahap ini, dilakukan juga pengaspalan jalan, pembuatan gapura serta taman. Bersumber dari ADD dan BKU D/K tahun 2014, menandai selesainya proses panjang pembangunan kantor desa yang representatif dan memiliki kesana yang unik dan mewah.
Dalam melaksanakan pembangunan, Desa Rancasari selalu melibatkan masyarakat setempat untuk jadi tenaga atau kuli bangunan. Sebab tujuannya untuk pemberdayaan dan membantu meningkatkan ekonomi masyarakat desa. Dengan begitu uang akan berputar di wilayah sendiri.
Saat dikonfirmasi pada Sekretaris Desa, total keseluruhan pembangunan kantor Desa Rancasari menelan biaya hingga Rp300 Juta. Angka tersebut bisa dibilang cukup kecil jika melihat kelengkapan fasilitas dan bangunan yang megah. Namun Cartim berkata total dana yang digunakan besaranya seperti itu.
“Habisnya kisaran segitu. Kan uang Rp100.000 dulu sama sekarang beda. Nilainya mungkin sama. Tapi harga segitu juga dipengaruhi inflasi dan harga yang berubah,” kata Cartim.
Jika dirinci, Kantor Desa Rancasari memiliki total 11 ruangan. Ruangan tersebut diantaranya digunakan untuk Kades, Sekdes, Kaur, Pelayanan, BPD, Posyandu, dan PKK. Selain itu, ada juga Aula serbaguna yang bisa digunakan untuk macam-macam acara hingga keberadaan mushola.

H. Ujang Waridin selaku Kepala Desa Rancasari menambahkan, kantor desa yang dibangunnya sedemikian rupa bertujuan untuk memberikan pelayanan maksimal pada masyarakat.
“Masyarakat tidak takut untuk datang ke desa. Bahkan masyarakat datang ke desa tidak hanya untuk mengurus keperluan pembuatan KK, KTP atau semacamnya, tapi juga untuk rekreasi,” katanya.

Senada dengan Kepala Desa, Asep Maulana selaku Kepala Dusun Pangadangan menuturkan bahwa dengan bangunan seperti itu mencerminkan pemerintahan yang bagus.
“Kepala desa menerapkan pembangunan infrastuktur dan pembangunan kantor desa berarti harus diikuti juga pelayanan maksimal kepada masyarakat,” tuturnya.

Asep melanjutkan, sebagai gerbang Desa menuju Pamanukan dirinya merasa bangga, memiliki Kantor Desa yang representatif dan menuju kearah yang lebih baik serta dibarengi pelayanan maksimal. Hal ini selaras dengan temuan Pasundan Ekspres di lapangan, sebab pelayanan pada masyarakat menjadi hal yang paling diutamakan.
Cartim menambahkan jika Kades selalu menanamkan pelayanan pada masyarakat tidak hanya terbatas dikantor. Jika ada masyarakat yang membutuhkan bantuan bisa langsung datang ke rumahnya atau aparat Desa seperti RT/RW setempat untuk dibantu jika ada permasalahan. “bisa dibilang administrasi jalan setiap hari,” kata Cartim
Salah satu contohnya yaitu dalam penggunaan kendaraan operasional desa yang kerap kali disebut ambulan Desa. Kendaraan bisa setiap waktu digunakan masyarakat. Misalnya jika ibu hamil atau orang sakit mendadak bisa memakai ambulan desa.
Iyah, warga Dusun Sarimukti berkata jika dalam penggunaan mobil desa itu tanpa dipungut biaya. “Paling cuma buat supir atau uang bensin aja”.

Sebab menurut Ibu Iyah, dirinya merasakan dan melihat pelayanan yang maksimal yang diberikan pemerintahan Desa saat ini. Jika ada warganya yang tidak berkecukupan, soal khitanan bisa lapor ke Kades dan dibantu full secara pendanaan. Tidak hanya itu, jika ada yang meninggal dan keluarganya juga tidak memiliki biaya, juga dibantu oleh kepala desa. Tarsalim selaku Ketua RT 01 juga berujar jika ada warganya yang sakit atau memerlukan biaya untuk operasi, pasti akan dibantu.
Di tempat terpisah, Kepala Dusun Rancasari M. Toha mengungkapkan saat ini kepala desa berserta stafnya berani memperjuangkan dan membangun. Dengan sumbangan atau bantuan dana desa, hasil musrenbang bisa dilaksanakan dan dana bisa dipakai sesuai aturan. “Walau ada kekurangan tapi saya salut sama kepala Desa dengan pembangunan yang ada di desa,” kata Toha.

About RadioGsp Pamanukan

Terimakasih telah berkunjung di GSP Radio.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama