» » BENARKAN HARIMAU JAWA MASIH ADA DI HUTAN KAWASAN SUBANG SELATAN???

Bewara GSP - Hari Hutan sedunia 2018 dimaknai para aktivis lingkungan hidup se Dunia 2018 sebagai upaya perlindungan terhadap hutan dan segala isinya salah satunya Harimau atau Macan Jawa atau Macan lodaya, obrolan santai bersama aktivis lingkungan hidup asal Subang, Memed Humaedin saat ditemui di kawasan Cempaka Putih Jakarta Pusat hari ini, Ahad (1/04/2018).

Harimau Jawa sendiri dinyatakan punah pada kisaran tahun 1970-an. Jejaknya hanya tinggal kenangan setelah tak kunjung ada aktivitas yang menangkap dari hewan dengan nama latin Panthera Tigris Sondaicus tersebut dan menjadi obrolan menarik tentang kalimat “Telah Punah” di perserikatan bangsa bangsa.
Cerita Tentang satwa macan Jawa atau maung Lodaya dimana gambar dan ilustrasinya digunakan sebagai logo instansi militer, Polri, klub olahraga dan organisasi kemasyarakan di Indonesia, apalagi isu yang kembali menghangat dalam beberapa tahun terakhir soal ditemukannya kembali tanda-tanda kehidupan diduga Harimau Jawa dibeberapa daerah di Indonesia menimbulkan pertanyaan benarkah satwa ini masih ada atau berkembang biak?
Temuan Bekas Cakaran dan Satwa Mirip Harimau Jawa perlu di Teliti
Di kabupaten Subang, tahun 2004 warga menangkap seekor harimau besar atau diduga macan Jawa, dalam keadaan mati bangkai Satwa tersebut menurut Memed telah diambil pihak berwenang untuk diteliti. Pada sekitar tahun 1970 satwa liar sejenis macan yang memakan sapi juga ditangkap warga desa Cimanggu kecamatan Cisalak, menurut Memed perlu pengetahuan warga membedakan jenis satwa liar.
Ada juga laporan masyarakat melihat cakaran bekas macan di hutan gunung Tangkubanparahu, Memed menambahkan cakaran yang diduga macan Jawa bertubuh besar tersebut harus diasumsikan dari penelitian ilmiyah dan jangan dikaitkan dengan mistik dan mitos. Ada cerita juga yang mengatakan tengah malam dicegat macan ketika pulang dari kawasan gunung Canggah, Bukanagara dan Cibitung di pegunungan Selatan kabupaten Subang
“Begitu ada bukti ilmiah, seharusnya DPR menerbitkan RUU perlindungan Satwa langka jenis macan lodaya/ macan jawa untuk dijadikan Undang-undang perlindungan satwa macan Jawa atau maung Lodaya, karena metode ilmiah ini perlu, cerita masyarakat tersebut jangan jadi mitos, teliti dan analisa dulu yakinkan kebenarannya dan libatkan para peneliti satwa liar,” tegas Memed.
Menurut Memed dari bukti-bukti yang dia ketahui saat ini tengah menunggu hasil penelitian terkait apakah benar keberadaan macan Jawa tersebut masih ada. “Ada uji lab dan bukti fisik dari instansi terkait karena yang terakhir ditemukan dan ditangkap di daerah Buniara kecamatan Tanjungsiang ini apakah identik dengan ciri-ciri pada seekor macan Jawa, nanti kita lihat,” pungkasnya. ***

About RadioGsp Pamanukan

Terimakasih telah berkunjung di GSP Radio.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama