» » CERITA DIBALIK EKSKAVASI SITUS NYI SUBANG LARANG

DITEMUKAN KERANGKA MANUSIA AUSTRONESIA, DIPERKIRAKAN TAHUN 45 SM

Untuk yang ketiga kalinya, arkeolog melakukan ekskavasi di kawasan Situs Nanggerang atau Situs Nyi Subang Larang yang terletak di RT 11 RW 02 Desa Nanggerang, Kecamatan Binong, Kabupaten Subang. Seperti apa hasilnya?
Mei tahun 2011 lalu, hutan jati di desa Naggerang, Kecamatan Binong, tiba-tiba ramai dikunjungi banyak orang termasuk para sejarawan dan budayawan Jawa Barat. Pasalnya, di daerah ini ditemukan berbagai peninggalan benda bersejarah yang diduga milik Nyai Subang Larang.
Benda-benda bersejarah itu banyak ditemukan di hutan jati yang disebut Muara Jati dan Teluk Agung yang juga dikenal dengan sebutan Astana Panjang. Tak ada warga yang tahu sejarah daerah itu disebut Astana Panjang, yang pasti sejak tahun 80-an warga sekitar sudah sering menemukan benda-benda kuno di sini.
Penetapan lokasi tersebut sebagai situs peninggalan Nyai Subang Larang didasarkan pada hasil penelusuran Abah Dasep Arifin sejarawan dari Bogor yang sudah puluhan tahun mencari jejak makam Nyai Subang Larang.

Arkeolog dari Balai Arkeologi Bandung, Dr Lutfi Yondri, M.Hum mengatakan, sebelumnya di lokasi tersebut telah ditemukan 1.600-an butir manik-manik dari berbagai bentuk, bahan dan masa. Selain itu juga ditemukan rahang manusia serta fragmen tembikar. Sehingga indikasi ada kehidupan di masa pra sejarah di lokasi tersebut.
Kemudian pada tahun 2013 lalu, dilakukan ekskavasi ditemukan bagian kaki manusia. Dilanjutkan pada tahun 2016 ditemukan dua kerangka manusia tidak utuh. Dia mengatakan, ada perbedaan orientasi kuburan manusia sekarang dengan zaman dulu. Di kawasan tersebut ditemukan bekal kubur, berupa senjata berbahan logam dan tembikar.
Hal itu cukup menarik untuk diteliti kaitannya dengan manuasia Austronesia yang bermigrasi ke wilayah barat Indonesia, khususnya pulau Jawa. Penelitian sebelumnya sempat dilakukan oleh para arkeolog di pantai utara di Cilamaya, Karawang.
“Daerah Subang ini menjadi daerah yang strategis untuk dijadikan penelitian untuk mencari jejak Austronesia,”   ungkapnya   kemarin (12/4).

Dia mengatakan, ketika ekskavasi sebelumnya di Situs Nanggerang ditemukan tanda-tanda keberadaan manusia Austronesia. Diantaranya yakni ada gerabah slip merah, tradisi kubur ditandai dengan ditemukannya kerangka manusia.
“Saya sudah melakukan anilisis per tanggalan untuk rangka manusia yang ditemukan di sini, sementara angka yang didapat 45 tahun SM,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, namun beberapa arkeolog mengatakan migrasi sekitar 2000 SM dan masuk ke Jawa sekitar 500 SM. Hal inilah yang kemudian menarik untuk dilakukan penelitian lebih dalam.“Kawasan Subang ini tak hanya di situs ini saja, garis pantai yang sudah digambarkan teman-teman arkeolog itu yang harus kita telusuri,” ujarnya.
Dia mengatakan, situs Nyi Subang Larang ini merupakan situs yang potensial untuk penelitian ke depannya guna mendapatkan data-data baru mengenai kehidupan manusia Austronesia.
“Data sementara itu sudah mampu memberikan informasi untuk menjawab hunian Austronesia,” ujarnya.

Program ekskavasi yang tengah dilakukan tersebut merupakan program dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Subang, yang dilakukan oleh seksi Cagar Budaya dan Kepurbakalaan bidang Kebudayaan.
“Ini menindaklanjuti dari kegiatan yang telah dilakukan oleh provinsi saat itu, di mana ditemukan fosil manusia purba. Ini merupakan bentuk kepedulian dari Pemkab Subang untuk menindaklanjuti kegiatan sebelumnya untuk mengembangkan temuan yang telah ada,” kata Kepala Disdikbud Subang, Drs Suwarna Murdias MMPd melalui Kasi Cagar Budaya dan Kepurbakalaan, Rudi Nasyaruddin Taufiq.

Dia mengatakan, harapan dari hasil ekskavasi yang dilakukan selama 17 hari ini menjadi tambahan pengetahuan bagi masyarakat Subang, terutama bagi siswa-siswi.
(YUSUP SUPARMAN, Subang)

About RadioGsp Pamanukan

Terimakasih telah berkunjung di GSP Radio.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama