» » DIDUGA DEPRESI, TKW LONCAT DARI LANTAI 35 APARTEMEN DI HONGKONG

Bewara GSP - Diduga depresi, tenaga kerja wanita (TKW) asal Desa Mariuk, Kecamatan Tambakdaham, Junaengsih (31) nekad loncat dari lantai 35 apartemen majikannya di Hongkong, minggu lalu. Nyawa korban tidak tertolong dan kasus ini ditangani pihak kepolisian hongkong. Padahal Junaengsih sudah merencanakan pernikahannya yang kedua usai lebaran nanti dan dijadwalkan habis kontrak Maret 2018. Junaengsih meninggalkan satu orang anak berusia dua tahun yang kini diasuh ibunya di Desa Mariuk.
Pihak Dinas tenaga Kerja dan Transmigrasi sudah berkoordinasi dengan pihak perusahaan yang memberangkatkan Junaengsih yaitu PT Delta dan akan segera dipulangkan dalam waktu satu minggu mendatang.
Kasi Binapenta Disnaker H Indra Suparman mengatakan, pihaknya mendapatkan kabar duka itu dari Kedutaan Indonesia di Hongkong. Junaengsih bekerja sebagai pembantu rumah tangga di apartemen majikannya. Kemudian pihaknya melakukan penelusuran. Diketahui korban berangkat ke Hongkong pada tahun 2015 secara resmi.  “Kami akan memanggil perusahan sponsor yang memberangkatkan TKW tersebut untuk meminta penjelasan. Kasus tersebut juga sedang dalam penanganan pihak kepolisian Hongkong,” ungkap Indra.

Kepala Desa Mariuk Kecamatan Tambakdahan Drs H Yon Cahyono saat dihubungi Pasundan Ekspres mengatakan, kabar kematian warganya di Hongkong disampaikan oleh pihak Disnakertrans. Kemudian dirinya langsung mengabarkan hal tersebut ke pihak keluarganya. “Ya kaget setelah menerima infromasi dari pihak Disnakertrans Subang karena ada warga kami yang meninggal di luar negeri,” kata Yon.
Diketahui, Junaengsih merupakan anak bungsu dari pasangan Asan dan Rohana yang hanya memiliki tiga orang anak. Junaengsih juga pernah menikah dengan pria warga Sumatera namun bercerai ketika sudah memilki anak berumur dua tahun yang saat ini diasuh oleh orang tuanya sambil berdagang di warung. “Oranng tuanya kaget dan lemas mendengar kabar itu. Menginginkan agar jenazah yang bersangkutan segera dipulangkan dan dimakamkan secepatnya,” katanya.

Menurut Yon, Junaengsih sering menelpon ke ibunya sering menderita sakit kepala yang dahsyat sampai tidak kuat menahannya. “Kata ibunya yang bersangkutan sering nelepon, sering sakit kepala,” ujarnya. Padahal kata Yon, Junaengsih sudah mengabari akan pulang dan akan menikah lagi usai lebaran nanti. (pe)

About RadioGsp Pamanukan

Terimakasih telah berkunjung di GSP Radio.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama