» » NELAYAN PATIMBAN MINTA SOLUSI DAMPAK PELABUHAN

Bewara GSP - Proyek pembangunan Pelabuhan Patimban akan berdampak pada sejumlah elemen profesi mata pencaharian masyarakat pesisir dan nelayan yang ada di Desa Patimban Kecamatan Pusakanagara.  Seperti halnya yang diungkapkan oleh sejumlah nelayan di Dusun Genteng Patimban. Mereka berharap pemerintah segera memberi perhatian dan solusi bagi nasib nelayan, dengan adanya proyek pembangunan Pelabuhan Internasional Patimban tersebut. 

Salah satu nelayan jenis tangkap sero Azis Sumanta mengatakan, ketika proyek pelabuhan mulai memasuki kontruksi pengerjaan, akan ada beberapa kelompok nelayan yang terkena dampak langsung pada aktifitas mata pencahariannya sebagai nelayan.  Menurut Azis, ada beberapa kelompok nelayan yang akan terkena dampak langsung tersebut, diantaranya nelayan sero, nelayan tegur, nelayan jaring pinggir serta pencari kerang. 

Nelayan Jaring Pinggir, Aryadi menyampaikan pendapatnya, bahwa pantai dan laut Patimban ini merupakan laut dengan kategori subur. Apalagi di Patimban sendiri terdapat tiga sungai yang bermuara, serta terdapat pula endapan lumpur yang bisa dimanfaatkan oleh nelayan. Dikatakan Aryadi, dengan kondisi itu, seharusnya para pihak terkait dalam proses pembangunan mulai memperhatikan nasib nelayan. Namun hingga detik ini, perhatian tersebut belum terlihat.
Hal tersebut juga dibenarkan oleh Subroto Prasetya yang juga berprofesi sebagai nelayan, berkeluh kesah serupa. Menurutnya, terkait nasib nelayan ditengah akan adanya pelabuhan ini belum tersentuh. 
Seharusnya kata Subroto, pemerintah dan pihak yang berkepentingan mulai dari sekarang memperhatikan nasib para nelayan Patimban. Nelayan yang menggantungkan hidupnya dari laut, kalau terkendala, apa yang mau dicari atau dibawa?. Nelayan akan semakin tersisihkan. Diapun menyatakan, hilangnya mata pencaharian ketika pembangunan kontruksi pelabuhan dimulai bukan isapan jempol belaka. Alat tangkap mereka yang paling panjang ada dikedalaman 3-4 meter tidak akan berguna jika nanti konstruksi mulai dikerjakan.  
Terkait pelatihan yang telah dilaksanakan seperti, pelatihan tambak lele, ternak domba, kerajinan bandeng presto, menurut kalangan nelayan itu akan menyulitkan para nelayan. Sebab, yang selama ini ada dipikiran masyarakat, hasil pelatihan tersebut akan mendapatkan bantuan permodalan, faktanya tidak. 
Logikanya saat masyarakat diberikan pelatihan tentang tambak lele atau ternak domba, harus didukung oleh alat, bibit dan prasarana.”Tambak lele kan harus ada tanahnya, bibitnya, domba juga harus ada dombanya, apa itu dikasih? kan engga. Selama ini yang yang dipikirkan masyarakat seperti itu, makanya saat pelatihan kita meyambut baik waktu itu. Tapi ternyata kan tidak,” kata Subroto.
Dia berharap, jika pun ada pelatihan yang membuat para nelayan harus beralih profesi, pelatihan tersebut harus berkaitan dengan proyek pelabuhan.
Hal itu diamini oleh Nelayan lain Ariyadi, ia berharap pelatihan-pelatihan yang diberikan harus menunjang proyek pelabuhan. Menurutnya, meskipun tidak lagi melaut namun dengan alih profesi di darat yang jelas hal itu tidak menjadi masalah.
Ariyadi hanya berharap, perlatihan yang diprogramkan oleh pemerintah memiliki prospek dan tujuannya jelas. Ia tidak ingin hanya sekedar pelatihan tanpa memiliki prospek profesio atau sertifikasi yang tidak berkaitan dengan adanya pembangunan Pelabuhan Patimban. (pe)

About RadioGsp Pamanukan

Terimakasih telah berkunjung di GSP Radio.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama