» » URGENSI PENDIDIKAN PRA SEKOLAH UNTUK ORANG TUA MURID DALAM MEWUJUDKAN PENDIDIKAN KARAKTER

Bewara GSP- ( 7 jurus mendidik anak sholeh & Penggagas Gerakan Ayah Bunda Hebat )

SUBANG. 2/2/2019. Tidak terasa kalender pendidikan sekolah telah memasuki semester genap, beberapa bulan lagi para orang tua akan disibukan dengan mencari sekolah yang cocok untuk pendidikan anak-anaknya. Sekolah-sekolah favorit pun sebentar lagi akan disibukkan dengan membludaknya calon siswa baru.
Di awal tahun 2014 kita sering mendengar jargon revolusi mental yang didengungkan oleh pemerintah. Angin segar tersebut menjadi harapan baru di dunia pendidikan Indonesia. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pun telah memperkuat dengan adanya Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dengan 5 poin karakter utamanya yaitu Religius, Nasional, Mandiri, dan Gotong royong. Bagus memang namun sampai dimana realisasi dilapangan ? seperti apa sistem evaluasi masing-masing karakter tersebut.
Selain itu ditambah dengan adanya ekosistem pendidikan yang terdiri dari sekolah, masyarakat, dan orang tua. Namun dalam realisasinya belum terlihat terobosan-terobosan sinergi diantara ketiganya yang berbeda, yang dapat terlihat hanya sebatas administratif saja.
Data lainnya ternyata 63% dari kasus bunuh diri remaja berasal dari anak fatherless (ayahnya tidak mau tahu, masa bodoh, atau tidak terlibat dalam mendidik anak). 
60% dari orang-orang yang melakukan kejahatan pemerkosaan ketika dewasa ternyata kecilnya hidup dalam keluarga dengan orangtua tunggal (single parent). Ini menunjukan bahwa kurangnya pendidikan karakter di rumah, sebenarnya tempat ideal membentuk kepribadian anak adalah keluarga, khususnya pendidikan usia pra sekolah. Orang tua sering menganggap bahwa sekolah seperti halnya Tempat Laundry, mereka bawa anaknya ke sekolah, bayar, 3 tahun diambil harus dalam keadaan bersih. Persepsi ini harus segera kita rubah dan benahi.
Sementara di lapangan kita lihat keadaan generasi penerus kita semakin menyedihkan, berdasarkan data 40% pengguna narkoba adalah pelajar dan mahasiswa pada tahun 2017. Ini membuat para orang tua semakin serba salah, disisi lain mereka ingin melindungi anaknya dari pengaruh buruk, tapi disisi lain dia perlu pendidikan untuk anaknya, sehingga diberangkatkanlah anaknya ke sekolah dalam keadaan was-was.

Karena hampir semua anak-anak yang terpengaruh pada kenakalan remaja memiliki permasalahan psikologis di keluarganya, tidak merasa disayangi, merasa tidak diterima, selalu disalahkan, keluarga tidak bisa menjadi tempat mencurahkan perasaan, akhirnya kegaluan mereka dapat dimengerti oleh lingkungan di luar keluarga, sehingga mereka betah dilingkungan ini, naasnya nilai-nilai lingkungan ini jauh dari nilai kebaikan. Pada akhirnya terjerumuslah anak-anak kita pada hal-hal negatif.
Memang benar dengan situasi zaman sekarang orang tua disibukkan dengan pekerjaannya di kantor atau di perusahaannya, itu pun dilakukan demi menafkahi anak-anaknya. Namun nafkah berupa materil saja tidak cukup untuk mencetak generasi unggul, diperlukan kehangatan kasih sayang dari Ayah dan Ibu agar emosi anak-anak kita dapat terkontrol. 
Apabila secara emosional telah terpenuhi kasih sayangnya, maka di sekolah anak akan mudah diarahkan, akan menunjukan semangat belajar, memiliki integritas sehingga tidak mudah tergoda hal-hal negatif. 

Khususnya di Indonesia belum begitu populer ilmu pengasuhan anak. Para orang tua memiliki ilmu pengasuhan ini sebagai ilmu warisan dari orang tuanya dulu. Padahal setiap zaman situasi dan kondisinya sangat berbeda. Apa yang dulu sangat efektif sekarang belum tentu efektif. Sebagian orang tua yang concern terhadap parenting skill mereka berusaha belajar secara otodidak mencari sumber referensi sendiri, mengikuti seminar-seminar di komunitas tertentu. Belum adanya lembaga resmi yang menjadi sandaran dan rujukan para orang tua untuk belajar parenting skill.
Solusinya merujuk pada sistem ekosistem pendidikan tadi, minimal sekolah dapat upgrade skill orang tua dengan ilmu-ilmu parenting skill sebelum anaknya disekolahkan. Orang tuanya sekolah terlebih dahulu belajar bagaimana cara mendidik anak agar ‘tangki cintanya’ penuh di rumah. Sehingga sekolah lebih mudah dalam mengisi ilmu pada anak tersebut. Daripada sebaliknya orang tua acuh mengirimkan anak dalam keadaan tidak stabil, setelah terpengaruh hal negatif akhirnya sekolah angkat tangan dan orang tua menjadi ‘pemadam kebakaran’ mengurusi tingkah buruk anaknya.

Negara Jepang dapat maju pesat di abad 20 ini bukan karena kebijakan pemerintahnya namun karena pendidikan Mama, di jepang terdapat profesi terpopuler yaitu kyoiku Mama yaitu pengasuh rumah tangga atau sebagai ibu rumah tangga. Mereka disana sangat bangga dan menghormati seorang ibu rumah tangga, 61% perempuan di jepang mengundurkan diri bekerja ketika melahirkan anak demi mendidik anaknya. Sehingga ibu rumah tangga di jepang banyak yang sarjana, bahkan S2, S3.

Harapan kami sebagai praktisi pendidikan karakter minimal pemerintah pusat ataupun daerah mengambil terobosan kebijakan dimana sebelum anak anak di daftarkan sekolah baik di PAUD, SD, SMP, maupun SMA terlebih dahulu orangtua siswa diberikan pembekalan singkat mengenai Perinting Skillm. sementara itu di akhir sesi diberikan evaluasi langsung.
Apabila orang tua tidak mengikuti pembekalan ini atau tidak lulus pembekalan, maka anaknya tidak diijinkan masuk sekolah tersebut lebih baik lagi edukasi terhadap orang tua diselenggarkan secara kontinyu baik secra offline maupun online, karena pendidikan kareakter bukan sebatas teori namun berkaitan dengan hati, praktek, repatisi dan contoh langsung (keteladanan). Bisa dibayangkan apabila sekolah dan rumah tidak bersinergi, contoh kecilnya misalnya siswa di sekolah diajarkan untuk membuang sampah pada tempatnya, ketika di sekolah mereka sudah terbiasa, namun ketika pulang di rumah melihat orang tuanya membuang sampah di jalan raya, maka pendidikan karakter yangs udah terbangun itu akan sia sia tidak akan menjadi karakter.
Pondasi segara ini terdapat di keluarga keluarga yang berkualias. Apabila keluarga ini rapuh tidak memiliki ilmu berkeluarga, akan menghasilkan generasi yang lemah, dan pada akhirnya bonus demografi yang kita harapkan akan menjadi moment Indonesia maju malah sebaliknya menjadi kelemahan negara kita.
*Anton/Adang GSP.

About Unknown

Terimakasih telah berkunjung di GSP Radio.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama