PT. RADIO GESWARA PAMANUKAN - JLN. RAYA PANTURA 313 MUNDUSARI - PAMANUKAN - SUBANG - JAWA BARAT - 41254 - TLP : 0260-551535 - EMAIL : AE_GSPFM@YAHOO.COM - MARKETING : 081-3245-444-04
» » MANG DEDI SUKSES KEMBANGKAN BUAH NAGA KUNING TANPA DURI

Targetkan Tanam 1.000 Pohon Tahun 2020 : Petani muda asal Subang, Dedi Sumardi berhasil mengembangkan buah naga kuning tanpa duri. Dia mengklaim pertama kalinya mengenalkan buah naga kuning tanpa duri ke publik. 

Mang Dedi sapaan akrabnya, kesehariannya tidak pernah jauh dengan tanaman kaktus ini. Kecintaannya terhadap buah naga yang sudah belajar menanam sejak tahun 2011 tersebut mampu membaca peluang.  Berawal dari media sosial, Dedi diminta bertukar bibit buah naga oleh kawannya di Thailand. Dia kemudian menghubungi pihak perkebunan di Thailand untuk mengirimkan bibit tersebut. 

“Pada Tahun 2019 pertama kali dikembangkan di Indonesia sudah terlihat hasilnya buah naga tersebut,” ungkapnya.  

Buah naga kuning tanpa duri tersebut ditanam di Kiwari Farm Lebaksiuh, Kampung Cigebang dan Purwadadi. Sudah ada 100 pohon yang ditanam. Target tahun ini bisa menanam 1.000 pohon. Dedi optimis dalam waktu dekat akan bertanam dalam jumlah besar sehingga buah naga kuning tanpa duri ini akan segera dinikmati oleh masyarakat. 

“Ke depan buah naga kuning tanpa duri ini kemungkinan bisa menggantikan buah naga merah dan putih yang saat ini berkembang di Indonesia,” ujarnya. 

Dedi menjelaskan, buah naga kuning tanpa duri juga dikenal dengan sebutan Isis Gold atau Golden Dragon. Buah naga ini pertama kali di Produksi dan dipopulerkan di Israel pada tahun 1990-an. “Buah naga ini adalah hasil persilangan manual antara buah daging putih kulit merah dengan buah naga kuning dari Colombia. 

Dua buah asli Amerika Selatan dan bukan hasil rekayasa Genetika. Profesor dan peneliti di Israel berharap buah naga ini mampu bersaing di pasar global,” jelasnya.Keunggulan buah naga kuning tanpa duri ialah mampu beradaptasi pada dataran rendah dan tinggi. 

Kata dia, hal itu karena masih sama dengan buah naga putih (Hylocereus Undatus) hanya saja kulitnya berwarna kuning terang karena mampu berdaptasi pada kondisi lahan yang marjinal dan kekurangan air sehingga perkembangannya sangat cepat. 

“Berbeda dengan buah naga kuning yang terdahulu yang berasal dari Colombia dan Ecuador,” ujarnya.  

Dia mengatakan, buah naga Colombia harus ditanam di ketinggian antara 600 – 1500 Mdpl. Jika ditanam pada dataran rendah maka buahnya rata-rata hanya sebesar ibu jari kaki atau 150 gram – 200 gram saja. Alhasil saat ini hanya mampu produksi di dataran tinggi saja seperti di Surabaya dan Bali hanya sekala kecil saja. 

Sementara buah naga Palora, kata dia, yang hampir mirip dengan buah naga Colombia ini relatif berkembang baik di dataran rendah tetapi hasilnya tidak maksimal rata – rata buahnya kisaran 250 – 350 gram saja. 

“Karena habitat aslinya di dataran menengah ke atas sehingga keduanya kurang berkembang baik di Indonesia. Petani buah naga banyak di dataran rendah seperti Riau, Kalimantan dan Sumatera juga para petani di Jawa timur,” ujarnya. Berbeda dengan buah naga kuning tanpa duri yang mampu beradaftasi pada kondisi lahan marginal dan ekstrem yang kekurangan air, sehingga perkembangannya pasti sangat cepat.  (pe)

About www.gspradio.com

Terimakasih telah berkunjung di GSP Radio.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama